USU Buka Suara Terkait Dugaan Pengosongan Paksa Gereja Chapel

USU Buka Suara Terkait Dugaan Pengosongan Paksa Gereja Chapel

Rechtin Hani Ritonga - detikNews
Selasa, 11 Agu 2026 18:13 WIB
Jemaat Gereja POUK Chapel USU berdoa usai pengosongan paksa.
Foto: Rechtin Hani Ritonga/detikSumut
Jakarta -

Puluhan jemaat Gereja POUK Chapel Universitas Sumatera Utara (USU) histeris setelah pihak USU diduga mengosongkan secara paksa seluruh barang-barang yang ada di dalam gereja. USU pun buka suara memberikan penjelasan.

Dilansir detikSumut, Selasa (11/8/2026), Ketua LBH Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Deddy Mauritz Simanjuntak menyebut kejadian pengosongan paksa ini terjadi saat pihaknya tengah menghadiri pemeriksaan di Polda Sumut. Pemeriksaan itu melibatkan Pendeta Gloria Bale, pastor yang memimpin ibadah di Gereja POUK Chapel USU.

"Jadi pada hari ini, kami melakukan pendampingan terhadap Ibu Pendeta Gloria Bale. Beliau dilaporkan ke Polda Sumatera Utara untuk LP yang ke-2 kalinya, dengan tuduhan pencemaran nama baik, sesuatu yang dia sendiri bingung, pencemaran nama baik apa yang dia lakukan. Nah, pada saat kami kurang lebih pukul setengah 11, mendampingi Ibu Pendeta Gloria Bale, si penyidik masih buka laptop, tiba-tiba kita dapat informasi dari teman kita di sini bahwa ada 10 truk dari Universitas Sumatera Utara yang melakukan pengosongan gereja," ujar Deddy saat diwawancarai di Gereja POUK Chapel USU, Senin (10/8).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendapatkan informasi itu, Deddy mengatakan pihaknya memutuskan menghentikan pemeriksaan tersebut serta meminta izin kepada penyidik Polda Sumut untuk kembali ke gereja.

"Sempat ketemu (dengan pihak yang mengosongkan), tapi kita sudah lihat bahwa gereja itu berada dalam kondisi yang porak-poranda. Semua barang-barang, termasuk barang-barang pribadi yang harusnya, itu tidak bisa diambil dengan paksa karena ada undang-undang yang melindungi hal tersebut. Itu dilakukan oleh mereka yang mengatasnamakan Universitas Sumatera Utara," ucapnya.

USU Buka Suara

USU buka suara terkait dugaan pengosongan paksa Gereja POUK Chapel. USU menyebut relokasi sementara Chapel USU sebagai bagian dari penataan dan renovasi fasilitas rumah ibadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sarana pembinaan kerohanian bagi sivitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU.

Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, Robert Sibarani, mengatakan Chapel selama ini memiliki fungsi penting sebagai sarana pembinaan kerohanian mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan USU.

"Chapel selama ini difungsikan sebagai sarana pembinaan kerohanian bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan warga Kristen di lingkungan USU. Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar," ujar Robert melalui keterangan tertulis diterima detikSumut, Selasa (11/8/2026).

Menurut Robert, renovasi diperlukan seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen di USU. Saat ini, jumlah mahasiswa Kristen diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 orang yang tersebar di 16 fakultas.

"Dengan jumlah mahasiswa Kristen yang terus bertambah, kapasitas Chapel saat ini tentu perlu ditingkatkan. Karena itu, renovasi merupakan bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif dan mampu memenuhi kebutuhan pembinaan kerohanian di lingkungan USU," katanya.

Simak selengkapnya di sini.

Simak Video: USU Buka Suara soal Dugaan Pengosongan Paksa Gereja Chapel

(fas/imk)


Berita Terkait