Para NGO di Bali mendeklarasi Nyepi sebagai solusi pada sebuah pertemuan paralel atau side meeting di Grand Hyatt, Nusa Dua Bali, Senin (3/12/2007). Deklarasi Nyepi yang disebut sebagai Bhisama Bali atau deklarasi Bali Nyepi untuk Bumi, dibacakan oleh Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Aribawa. Pertemuan diikuti oleh beberapa NGO, dalam dan luar negeri.
Deklarasi Nyepi untuk Bumi mengajak seluruh umat manusia untuk belajar dari Bali dengan menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Nyepi Day (Hari Hening/The Silent Day). Melalui Nyepi atau The Silent Day, seluruh masyarakat dunia bisa berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghentikan kegiatan serta konsumsi energi selama 1 hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NGO Bali membantah bila usulan tersebut dianggap sebagai cara untuk meng-Hindu-kan dunia. Nyepi hanyalah sebuah filosofi yang bisa diambil untuk menyelamatkan bumi dari emisi C02. "Kami tidak bermaksud meng-Hindu-kan dunia. Tapi kami mengajukan filosofi dan sebuah kearifan lokal untuk mengajak dunia peduli dengan alam, di mana kita berkorban satu hari untuk memulihkan alam," tandas Tianyar.
Selama Nyepi, Pulau Bali diperkirakan mengurangi emisi Co2 paling sedikit 20 ribu ton karena sepeda motor, mobil, dan penerbangan berhenti beroperasi.
NGO di Bali akan terus menggalang kekuatan agar Nyepi sebagai solusi bisa gol menjadi keputusan UNFCCC.
(iy/iy)











































