Ketua delegasi Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim 2007, Emil Salim, yakin Adaptation Fund selesai dibahas di Bali. "Adaptation Fund, saya yakin bisa dirampungkan di Bali. Ada harapan semua negara anggota pada pembukaan tadi setuju pembentukan Adaptation Fund," kata Emil Salim dalam jumpa pers di Pavilion Indonesia, di kompleks Westin Resort, Nusa Dua, Bali, Senin (3/12/2007).
Saat ini, mekanisme pendanaan baru hanya pada aspek mitigasi. Mitigasi adalah penanggulangan untuk mengurangi emisi gas buang karbon ke atmosfir, sedangkan adaptasi berarti menyesuaikan diri. "Seperti Belanda bisa hidup di lingkungan lebih rendah dari laut. Mereka bisa transfer teknologinya ke kita. Sebab, makin hari permukaan air laut makin tinggi," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu, Emil Salim juga menyatakan, dalam pembukaan konferensi, ada hal lain yang menggembirakan, yaitu Australia berkomitmen untuk meneken Protokol Kyoto. Perubahan sikap Australia ini tidak terlepas dari faktor politis menangnya Kevin Rudd dalam Pemilu Australia.
"Sekarang sudah jadi mode dalam politik mengenai isu lingkungan, karena ini menyentuh kepentingan rakyat kecil," kata dia.
Mengenai Amerika Serikat (AS) yang kini menjadi negara yang masih enggan meratifikasi Protokol Kyoto, Emil menyatakan hal itu urusan politik AS. "Itu permasalahannya sendiri, kita tidak mau ikut campur," ujar dia.
Menurut Emil, saat dipimpin Bill Clinton, sebenarnya AS sudah meratifikasi Protokol Kyoto. "Dulu, Bill Clinton dengan Partai Demokratnya sudah meratifikasi. Namun, zaman Bush mereka menolak Protokol Kyoto. Selanjutnya kita tidak tahu bagaimana," ujar dia.
Apakah UNFCCC akan menekan AS untuk mau meratifikasi? "Ya kita harap ada perkembangan. Sekarang lingkungan sudah menjadi mode untuk politik. Barack Obama juga mengangkat isu-isu lingkungan dalam kampanyenya," kata pria bergelar profesor itu. (gah/asy)











































