Sederet Hal yang Sudah Diketahui dari Aksi Keji Saepul Pemutilasi

Sederet Hal yang Sudah Diketahui dari Aksi Keji Saepul Pemutilasi

Tim detikcom - detikNews
Senin, 10 Agu 2026 08:24 WIB
Saepul (26) pelaku mutilasi pria inisial K di Depok diperiksa di Polda Metro Jaya, Sabtu (8/8/2026).
Foto: Saepul (26) pelaku mutilasi pria inisial K di Depok diperiksa di Polda Metro Jaya (dok. Istimewa)
Jakarta -

Kasus pembunuhan disertai mutilasi yang dilakukan Saepul terhadap pria berinisial K mengungkap sederet fakta mengejutkan. Aksi keji tersebut kini tengah didalami pihak kepolisian.

Saepul membunuh K yang dikenal melalui aplikasi komunitas penyuka sesama jenis, di kontrakannya daerah Cipayung, Depok, pada 23 Juli 2026. Korban sempat dibiarkan sekarat sebelum akhirnya dimutilasi.

Jasad korban dimasukkan ke dalam karung. Karung isi mayat itu sudah teronggok di tanah kosong di Depok sejak 24 Juli 2026. Warga tak ada yang menyangka karung tersebut berisi jenazah manusia, sampai akhirnya pada Selasa, 4 Agustus warga berinisiatif membakar karung yang dikiranya berisi sampah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saepul dijerat dengan pasal 458 dan 459 KUHP terkait pembunuhan berencana. Atas ulah kejinya itu, Saepul terancam hukuman mati.

Bawa Kabur Barang Pelaku

Usai membunuh, Saepul membawa kabur barang-barang milik korban. Saepul lalu menjual barang korban melalui Facebook.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka menjual barang milik korban melalui market place Facebook," kata Kanit 1 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, Kompol Dimitri Mahendara saat dihubungi, Minggu (9/8/2026).

Dimitri mengatakan Saepul menjual murah barang-barang korban mulai dari sepeda motor hingga handphone (HP). Uang hasil penjualan digunakan untuk kehidupan sehari-sehari.

"Sepeda motor Honda PCX dijual seharga Rp 9,9 juta, sedangkan handphone OPPO Reno 5 dijual seharga Rp 950 ribu. Total hasil penjualan sebesar Rp 10.850.000. Berdasarkan keterangan tersangka, uang hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Pernah Ikut Ajang Pencarian Bakat

Belakangan diketahui, Saepul ternyata pedagang pisang cokelat (piscok) di Stasiun Pondok Cina. Dia juga pernah mengikuti ajang pencarian bakat di salah satu stasiun TV.

Rekaman video lama memperlihatkan sosok Saepul masuk layar kaca ketika ikut sebuah program televisi dalam ajang pencarian bakat. Dalam rekaman video viral itu, Saepul mengaku ikut ajang pencarian bakat itu untuk membantu meringankan ibunya yang berjualan sayuran di pasar. Pernyataan Saepul saat itu membuat penonton terharu.

detikcom mengonfirmasi terkait video tersebut ke Kanit 1 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, Kompol Dimitri Mahendara. Dimitri membenarkan bahwa Saepul pernah mengikuti sebuah ajang pencarian bakat.

"Betul, itu dia. Ada di akun TikTok dia juga," kata Dimitri, Jumat (7/8).

Pernah Jadi Guru di Pandeglang

Dimitri mengatakan, Saepul pernah menjadi tenaga pengajar di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Pandeglang, Banten. Karena itu, dia melarikan diri ke Pandeglang setelah membunuh dan memutilasi pria K.

"Menurut pengakuan Tersangka, sempat jadi guru matematika di sekolah SMP di Pandeglang, Banten, tetapi sudah tidak," imbuhnya.

Saepul disebut sudah merencanakan aksi pencurian barang korban hingga pembunuhan. Saepul saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polda Metro Jaya.

Kesal Korban Menolak Diajak Berhubungan Badan

Katimsus 2 Unit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono mengungkap motif Saepul membunuh korban. Kepada polisi, Saepul mengaku kesal karena korban menolak berhubungan dengan pelaku.

"Awal cekcok mulai terjadi bahwasanya memang dari hasil pendalaman kami bahwasanya pelaku ada intrik penyuka sesama jenis (LGBTQ)," kata Breggy dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).

Breggy mengatakan tak hanya menolak melakukan hubungan badan, korban juga menampar pipi Saepul. Hingga akhirnya terjadi cekcok berujung pembunuhan.

"Nah dari situ, pelaku mulai berusaha untuk melakukan hubungan dengan korban. Kemudian korban tidak terima akhirnya menampar pipi dari pelaku," ucapnya.

"Dari situ mulai cekcok, akhirnya sampai pelaku mengambil pisau untuk menusuk korban," ujarnya.

Gabung 5 Grup LGBT

Saepul disebut tergabung dalam lima grup LGBT. Semua grup itu lewat media sosial dan aplikasi percakapan WhatsApp.

"Untuk hasil pendalaman, dari pelaku bagaimana kami bisa menyimpulkan merupakan penyuka sesama jenis," ucapnya.

Breggy mengatakan Saepul terlibat dalam beberapa platform LGBT. Totalnya ada lima grup melalui Facebook dan WhatsApp.

"Yang pertama pelaku terlibat di beberapa grup LGBT yang ada di beberapa platform salah satunya di Facebook dan WhatsApp. Itu ada total yang sampai saat ini kami dalami ada 5 grup," ucapnya.

Kaki Korban Masih Dicari

Polisi masih berupaya melakukan penyisiran di Kali Licin, Cipayung, Depok, Jawa Barat, untuk mencari potongan kaki pria K (51), korban mutilasi Saepul (26). Polisi mengimbau warga untuk melapor jika mengetahui keberadaan potongan tubuh korban.

"Masih dalam pencarian. Mohon bantuan apabila ada masyarakat yang mengetahui, harap melaporkan ke kepolisian ya," kata Kanit 1 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, Kompol Dimitri Mahendara, saat dihubungi, Minggu (9/8/2026).

Simak juga Video 'Mayat Mutilasi di Depok Sempat Dikira Sampah dan Dibakar Warga':

Halaman 2 dari 3
(dek/dek)


Berita Terkait