Lukisan bertajuk It's a damn hot itu dilukis oleh satu dari 14 pelukis. Dalam lukisan itu tergambar kondisi hutan yang sangat memprihatinkan lantaran sudah gundul.
Dipamerkan pula lukisan yang menggambarkan badai besar sehingga hewan-hewan mati, rumah beterbangan, dan manusia tiarap. Lukisan yang diberi judul Should I survive bercerita tentang sebatang pohon yang tak lagi berdaun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pameran lukisan, digelar pula kegiatan lain yang intinya mengkritik kegiatan pengurangan pemanasan global melalui jual beli karbon yang dikomandani negara-negara maju.
Kegiatan itu antara lain diskusi masyarakat adat dari berbagai dunia antara lain Spanyol, Meksiko, serta negara-negara di kepulauan Samudra Pasifik seperti Pulau Samoa, Pulau Tuvalu, dan Kiribati.
Kegiatan tersebut digelar di kawasan Nusa Dua, Bali, Senin (3/12/2007), dan hanya berjarak 500 meter dari lokasi konferensi berubahan Iklim di BICC.
Mereka juga membuat instalasi dari plastik yang berbentuk manusia-manusia, lalu disatukan membentuk bumi. Instalasi itu bukannya tanpa arti, melainkan mengibaratkan sampah plastik yang sudah memenuhi bumi.
Beberapa karikatur yang memprotes jual beli karbon juga dipajang. Salah satunya menggambarkan seorang polisi yang tengah menjaga hutan. Hutan itu telah diberi garis polisi dan terpampang papan besar bertuliskan 'This forest for rent for carbon sink'. Masyarakat adat pun terperangah melihatnya.
Selain itu pentas seni kesenian adat berbagai masyarakat dunia serta pameran dari para LSM juga digelar. (nvt/asy)











































