"Mau bilang apa lagi. Ini kan sudah jadi langganan. Kalau tidak mau tergenang air, ya harus menimbun. Kalau parit nih tidak dapat menyalurkan air. Bukan karena buntu tapi karena airnya memang banyak," kata Uzair, warga Komplek OPI, Jakabaring, Palembang, Minggu (2/12/2007).
Selain komplek OPI, banjir juga menggenangi sejumlah perkantoran di Jakabaring. Seperti gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumsel dan Komplek Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Banjir juga terjadi di pemukiman penduduk di Plaju, Kalidoni, dan Gandus.
Ketinggian air mencapai 30 centimeter ini membuat halaman, gang, atau rumah warga tergenang air.
"Saya percaya Palembang tidak akan bebas banjir. Rawa ditimbuni, dibangun ruko (rumah toko), lalu parit sering buntu, anak sungai menyempit. Bahkan, saya percaya Palembang akan tenggelam," kata Sofyan, warga Kalidoni.
Sementara musim hujan ini juga menyebabkan banyak warga yang mendatangi puskesmas di Palembang untuk berobat. Mereka umumnya terserang penyakit demam dan flu.
"Setiap hari ada sekitar 100 orang berobat ke kami," ujar Ningsih, petugas Puskesmas Kalidoni.
(tw/mly)











































