"Indonesia punya peluang dan butuh sesosok ibu sebagai ibu bangsa. Memang perlu proses panjang, tapi jika diupayakan pasti bisa tercapai," ujar Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dalam talkshow 'Peran kepemimpinan politik perempuan' di kediaman Menneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault di Jl Kartika Raya, Kalibata, Jakarta, Jumat (30/11/2007).
Menurut dia, maju tidaknya suatu negara bukan di tentukan oleh sistem politik yang berlaku
melainkan oleh nilai-nilai moral yang di tanamkan dari dalam keluarga. "Kita harus meyakini kalau perempuan harus bisa berperan. Peran bapak bangsa harus diimbangi dengan peran-peran ibu. Perlu mengupayakan peran perempuan untuk berkiprah di politik," sambungnya.
Dia mengatakan, perempuan pernah berperan sejak era sebelum kemerdekaaan. Pada era reformasi dengan iklim demokrasi ini, peluang perempuan untuk meningkatkan peran di berbagai bidang juga semakin terbuka.
"Saya melihat posisi perempuan bisa sangat menguntungkan kalau memang dilakukan perjuangan secara sistematis dan berencana," imbuh Marwah.
Yang menjadi dasar pegangan perempuan, lanjut dia, salah satunya harus memperjuangkan secara struktural. Hal itu dalam artian UU dan peraturan-peraturan yang mendukung perubahan-perubahan struktural dan yang sifatnya personal.
"Kalau ingin memajukan secara berencana di dalam sistem berpartai kekeluargaan dan masyarakat pribadi, Insya Allah perempuan dapat bangkit, bukan untuk kepentingan perempuan sendiri," cetus Marwah.
Untuk dapat terjun ke dunia politik, perempuan butuh pelatihan dan juga role model. "Begitu banyak potensi yang dimiliki orang indonesia.kebanyakan mereka merasa miskin padahal kita tidak boleh melihat atau merasa miskin keluar. Kita harus melihat potensi dalam diri kita," tambah Marwah. (nvt/nvt)











































