Air Sungai Cikapundung di Bandung Mengkhawatirkan

Air Sungai Cikapundung di Bandung Mengkhawatirkan

- detikNews
Jumat, 30 Nov 2007 16:22 WIB
Bandung - Jangankan dipakai minum, untuk menyiram tanaman atau hanya membasahi jalanan pun, Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung sudah tidak layak lagi. Mulai dari hulu hingga hilir, kualitas air sungai yang membelah Bandung tersebut sangat mengkhawatirkan.

Demikian disampaikan Koordinator Kelompok Kerja Komunikasi Air (K3A), Dine Andriani kepada wartawan di sela-sela pengukuran kualitas air di bagian hulu DAS Cikapundung oleh belasan siswa SMA di Jalan Banceuy, Bandung, Jumat Siang (30/11/2007).

"Sejak Januari hingga penelitian terakhir K3A yaitu pada Juli 2007, kandungan oksigen yang terlarut atau DO (Dissolved oxygen-red) dalam air makin menurun. Artinya, kandungan logam berat dalam air makin meningkat. Kualitas DAS Cikapundung benar-benar makin mengkhawatirkan," jelas Dine.
 
Bahkan, lanjutnya, hasil penelitian yang dilakukan Jumat (30/11/2007) di tiga titik yaitu di Dago Bengkok (hulu sungai), Jalan Lebak Siliwangi (tengah) dan Jalan Banceuy (hilir sungai), kandungan oksigen makin rendah dibandingkan penelitian Juli 2007 lalu.  

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil pemeriksaan Jumat 30 November, kandungan oksigen di Jalan Banceuy hanya 1,7 mg/ liter. Sedangkan di Jalan Lebak Siliwangi hanya 6,3 mg/liter dan Dago Bengkok 5,9 mg/liter. "Sementara normalnya, kandungan oksigen dalam air minimal 6 mg/ liter. Itu sesuai PP No 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan air," jelas Dine.

Menurutnya hal tersebut disebabkan tingginya kandungan limbah yang berasal dari pertanian yang tidak ramah lingkungan, peternakan, rumah tangga, pasar dan limbah industri.
 
"Tidak hanya itu, tingginya sedimentasi di daerah hilir akibat banyaknya penebangan pohon dan alih fungsi lahan mengakibatkan kualitas air sungai menjadi semakin buruk," tambahnya.

Jika hal ini dibiarkan terus, kerusakan lingkungan akan semakin menyebar.Tidak hanya kualiatas air sungai, namun air tanah di Kota Bandung pun akan tercemar.

"Perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah untuk mengatasi hal ini. Jika tidak, kita tidak akan mempunyai air bersih lagi," tandasnya. (ern/nrl)


Berita Terkait