Rencana Pramono Cabut Pagar Tinggi di Mal yang Bikin OVT

Rencana Pramono Cabut Pagar Tinggi di Mal yang Bikin OVT

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 02 Agu 2026 06:04 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Fenomena pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal wilayah Jakarta yang dikaitkan dengan aksi unjuk rasa ramai dibahas publik. Pemasangan pagar tinggi mal mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, karena fenomena tersebut membuat kesan seolah-olah Ibu Kota tidak aman.

Untuk langkah awal, Pramono akan segera berkoordinasi untuk menertibkan pemasangan pagar-pagar tinggi tersebut. Menurutnya, keamanan tetap penting, tapi kurang tepat diwujudkan dengan pagar yang menjulang.

"Saya mengikuti dengan saksama adanya pemasangan di beberapa tempat pagar-pagar yang kemudian menjadi sangat tinggi sekali. Secara pribadi, sebagai Gubernur Jakarta, tentunya saya tetap berkeinginan, apa pun, Jakarta itu aman, nyaman," kata Pramono di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pramono menilai para pelaku usaha, pengelola mal, pemilik properti, hingga perkantoran tidak perlu memasang pagar secara berlebihan. Sebab, langkah itu justru dapat memunculkan persepsi negatif terhadap Jakarta.

"Termasuk pemilik mal, properti, perkantoran, dan sebagainya tidak perlu kemudian harus memasang pagar yang berlebihan. Dan saya akan segera mengoordinasikan untuk menertibkan itu," ujarnya.

Pagar Tinggi Bikin Citra Buruk

Keberadaan pagar tinggi justru dinilai membentuk citra bahwa Jakarta sedang dalam kondisi tidak aman. Berdasarkan koordinasi yang dilakukan dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum, Pramon menegaskan situasi Jakarta saat ini kondusif.

"Jangan sampai kemudian ini menjadi image bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Padahal menurut saya, sebagai Gubernur Jakarta, dan saya melakukan koordinasi dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum di berbagai sektor, saya meyakini bahwa Jakarta aman-aman saja," tegasnya.

Mantan Seskab itu mengatakan belum ada regulasi yang secara spesifik mengatur tinggi pagar mal hingga perkantoran di Jakarta. Namun, ia menilai pagar yang terlalu tinggi mengurangi kenyamanan dan estetika kota.

"Untuk larangan itu, terus terang, memang tidak secara spesifik. Tetapi dengan membuat pagar yang berlebihan, itu mengganggu kenyamanan, mengganggu Jakarta yang sekarang ini menurut saya harusnya bisa lebih baik," ucapnya.

Pramono mengungkapkan visinya agar Jakarta menjadi kota yang lebih terbuka dan hijau. Politikus senior PIDP berharap pagar tinggi tidak lagi menjadi elemen yang dominan di ruang perkotaan.

"Bahkan saya berpikir pagarnya itu nggak perlu tinggi-tinggi. Kemudian yang penting pohonnya yang banyak, lebih hijau. Antara satu dan sebelah, bersebelahan itu juga mungkin lebih baik dibuka," katanya.

Langkah penataan itu, kata Pramono, hanya akan diterapkan di wilayah Jakarta. Tujuannya agar masyarakat maupun pelaku usaha merasa aman dan nyaman beraktivitas di Ibu Kota.

"Kalau untuk daerah lain saya nggak mau ikut campur, tapi untuk Jakarta saya berkeinginan betul bahwa masyarakat semuanya merasa aman, nyaman," tegasnya.

Mal Kokas mulai dipagari di bagian depanMal Kokas mulai dipagari di bagian depan. (Ilham Satria Fikriansyah/detikcom)

Polda Metro Pastikan Jakarta Aman

Polda Metro Jaya memastikan situasi Jadetabek aman dan kondusif di tengah fenomena pemasangan pagar tinggi sejumlah mal di Jakarta. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan belum menerima informasi terkait rencana aksi unjuk rasa, namun pihak kepolisian tetap melakukan pemantauan melalui media sosial.

"Terkait tentang pagar, dalam situasi kamtibmas, sampai saat ini Polda Metro Jaya masih belum menerima surat pemberitahuan terkait tentang aksi yang ada. Tetapi tidak berhenti di situ, Polda Metro Jaya melalui direktur-direktur operasional tetap melakukan pemantauan secara dunia maya, digital," kata Budi Hermanto kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (31/7).

Kolaborasi dengan lembaga dan badan lainnya, Polda Metro Jaya memonitor kondisi Jadetabek setiap menit. Budi menegaskan kondisi Jadetabek kondusif di tengah fenomena pemasangan pagar tinggi.

"Tetapi perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dapat dikendalikan. Ini berkat kerja sama Polda Metro Jaya dengan Kodam Jaya. Jadi, menciptakan rasa aman itu bukan menjadi tanggung jawab satu institusi, tapi berbagai institusi, termasuk dari masyarakat," imbuhnya.

Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri sudah membentuk tim preventif strike di direktorat yang ada di Polda Metro Jaya. Budi mengatakan tim tersebut untuk memantau potensi kerusuhan demi terciptanya Jakarta yang aman.

"Jadi sudah melakukan mitigasi awal, apabila ada kelompok-kelompok yang mencoba membuat kerusuhan, membuat situasi tidak nyaman dan aman di wilayah hukum Polda Metro Jaya termasuk wilayah-wilayah penyangga, akan dilakukan tindakan tepat, tegas, dan terukur," kata dia.

"Jadi langkah-langkah mitigasi juga sudah dilakukan. Begitu juga tadi dilakukan upaya-upaya peningkatan patroli, baik itu skala kecil, sedang, maupun besar di wilayah-wilayah penyangga, misalnya wilayah Bekasi, Depok dengan Jawa Barat, wilayah Tangerang dengan wilayah Banten," imbuhnya.

Kata Pengusaha soal Pasang Pagar Tinggi

Ketum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani angkat bicara soal fenomena mal pasang pagar tinggi. Shinta menilai langkah tersebut belum tentu berkaitan dengan situasi keamanan saat ini melainkan kebijakan masing-masing pengelola mal.

Shinta belum berbicara langsung dengan pemilik mal yang memasang pagar sehingga belum mengetahui alasan pastinya. Namun, ia menduga pemasangan pagar lebih didorong pertimbangan keamanan internal daripada dipicu kondisi tertentu.

"Jadi mungkin ada alasan-alasan lebih alasan keamanan aja gitu supaya lebih apa ya, bukannya hanya karena kebetulan saat ini gitu loh, tapi ya mungkin memang supaya mereka bisa menjaga aja dari situasi keamanan gitu. Saya juga belum tahu sih, belum bicara sama pemilik," ujar Shinta di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir detikFinance, Sabtu (1/8).


Apindo, kata Shinra, belum memberikan perhatian khusus terhadap fenomena tersebut karena tidak terjadi secara luas. Menurutnya, setiap pengelola pusat perbelanjaan memiliki kebijakan masing-masing dalam mengelola aspek keamanan di kawasan usahanya.

"Kita nggak terlalu memperhatikan secara detail. Ini juga kan nggak terjadi semua, semua mal. Ini kan cuma satu mal gitu, dan itu mungkin ada alasannya kenapa di situ dipagari. Tapi nanti ya kami mungkin akan cek gitu. Tapi kita nggak, kita sih nggak ada kekhawatiran bahwa semua harus memagari atau dari situasi itu," beber Shinta.

Shinta mengaku belum menerima laporan dari pemilik maupun pengembang pusat perbelanjaan terkait adanya persoalan keamanan tertentu. Ia kembali menekankan bahwa pemasangan fasilitas pengamanan merupakan hal yang bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan masing-masing pengelola.

"Tapi yang pasti kan dalam situasi bisa aja ya, setiap mal itu punya ini masing-masing untuk menjaga keamanan, dia kemudian memasang itu bukannya karena hari ini kebetulan, tapi ya kapan saja itu bisa terjadi," tuturnya.

Lihat juga Video Rencana Pramono Tertibkan Pagar Tinggi di Mal Jakarta

Halaman 3 dari 3
(rfs/wnv)


Berita Terkait