Presiden Prabowo Subianto menilai situasi geopolitik global saat ini sangat rawan akibat meningkatnya eskalasi di berbagai kawasan negara Timur Tengah. Ia menilai kondisi tersebut harus disikapi secara waspada, tapi tanpa kepanikan.
"Ini situasi global sangat rawan. Tapi tidak ada gunanya kita panik. Tidak ada gunanya kita ketakutan. Tapi juga membuat kita harus lebih sadar, bertindak, berkata, bertutur kata, harus dengan kearifan, harus dengan kebaikan. Dan kita waspada, karena memang kita negara sangat besar. Kita negara sangat kaya," kata Prabowo saat bertemu para pimpinan Kadin di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Prabowo menjelaskan kekayaan sumber daya alam kerap menjadi faktor yang memicu persaingan antarnegara. Ia mencontohkan sejarah Nusantara yang sejak berabad-abad lalu menjadi incaran bangsa-bangsa asing karena memiliki komoditas strategis, seperti rempah-rempah dan kayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita selalu menjadi sasaran ratusan tahun. Selalu masalahnya itu komoditas. Kalau tahun seribu lima ratusan, seribu enam ratusan, itu rempah-rempah menjadi komoditas krusial, kritikal. Kenapa? Belum ada kulkas. Belum ada refrigeration," ujarnya.
Menurutnya, pada masa lalu rempah-rempah menjadi komoditas penting karena digunakan untuk mengawetkan makanan dalam pelayaran panjang, sedangkan kayu dari Nusantara dibutuhkan untuk membangun armada laut yang kuat.
"Nah, ini yang kita tidak sadari, atau kita sadari tapi kita mungkin nggak mau belajar. Jadi saudara, ini bisa juga dikatakan the curse," ujarnya.
"Orang yang diberi atau negara ataupun kawasan di bumi yang diberi sumber alam yang begitu kaya, sering menjadi sasaran," lanjut Prabowo.
Prabowo lantas mengaitkan kondisi tersebut dengan konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang dinilainya dipengaruhi oleh melimpahnya cadangan minyak, gas, dan mineral di kawasan tersebut. Ia menilai praktik politik pecah belah atau divide et impera masih relevan hingga saat ini.
"Kenapa ribut di Timur Tengah? Timur Tengah banyak gas, banyak minyak, dan banyak mineral-mineral lain. Berkecamuklah perang sudah ratusan tahun di situ. Jadi, divide et impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah, itu nyata. Nyata. Divide et impera nyata," ujarnya.
Lebih lanjut, Prabowo menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap perlombaan persenjataan di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut perkembangan program nuklir di kawasan tersebut berpotensi memicu negara lain mengambil langkah serupa.
"Jadi Saudara, ini dengan panjang lebar saya tekankan kembali ke saudara, karena apa yang kita bahas sedang terjadi di depan mata kita," ujarnya.
"Tiap sore, tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi. Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirates (UEA) juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir," lanjutnya.










































