"Istilah-istilah itu sangat akademis. Padahal masyarakat pada umumnya tidak tahu menahu pada hal tersebut," kata Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X saat melepas tim Road Show Clean Air, di Kantor Gubernur, Jl Malioboro Yogyakarta, Jumat (30/11/2007).
Menurut dia, isu pemanasan global akibat efek rumah kaca dan perubahan iklim perlu disampaikan secara hati-hati kepada masyarakat. Sebab, bangsa Indonesia yang multi etnik tidak memiliki tingkat kecerdasan dan pemahaman yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keselarasan alam dan manusia, lanjut dia, ditentukan oleh manusia itu sendiri. Pemahaman selasar dengan alam jauh-jauh hari telah ada sebelum kemerdekaan dan isu kerusakan lingkungan mengemuka.
"Dengan pemahaman seperti ini, masyarakat tidak akan menyalahkan industri. Tidak akan menyalahkan sektor yang menyumbang kerusakan alam," tambahnya.
Selain itu, masih menurut gubernur, industri diciptakan untuk manusia, bukan untuk merusak. Bila hidup dapat selaras dengan alam, artinya bisa berdampingan dengan teknologi.
"Ini yang harus dijelaskan terhadap masyarakat," tegas Sri Sultan.
Sri Sultan melepas rombongan iring-iringan kampanye langit bersih didampingi Ketua Gaikindo Bambang Trisulo. Turut hadir Presiden Direktur Toyota Astra Motor, Jhonny Dharmawan.
Sebelumnya, secara simbolik ditanam tiga bibit pohon buah kepel dari penyerahan 1.000 pohon sebagai bagian dari kampanye udara bersih. Selanjutnya rombongan meluncur ke Malang di bawah langit cerah Yogyakarta. (Ari/sss)











































