Robert menjelaskan hal ini kepada detikcom yang menghubungi lewat jaringan internasional dari Florida, AS, Kamis (29/11/2007) pukul 21.30 WIB. Robert dan keluarganya shock membaca berita mengenai kasus keris miliknya yang dipermasalahkan. "Tolong masalah ini jangan dipermasalahkan. Karena keris-keris ini hanya barang titipan untuk diurus," pinta Robert.
Menurut Robert, keris-keris itu telah dibawa ke AS sejak lama, sekitar tahun 1997. Barang-barang itu bukanlan benda pusaka atau benda cagar budaya, hanya keris biasa. Ada yang memang sudah berusia tua, ada juga berusia muda. "Ini keris biasa. Kami kirimkan ke Indonesia untuk di-warang (dipelihara-Red). Karena sebagian keris-keris itu tidak ada selongsongnya," ujar Robert yang memang sangat menggemari keris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robert menegaskan dirinya dan keluarganya tidak melakukan kekacauan dan kejahatan apa pun terkait benda -benda pusaka atau cagar budaya. "Kami menghidupi hidup kami di Amerika dengan cara yang wajar. Kita sangat taat sama hukum. Karena itu, ketika saya membaca berita ini, seakan pingsan," aku dia.
Dia juga menegaskan bahwa Martin memang tinggal di Solo dan sudah berkomunikasi dengan dirinya mengenai masalah ini. Saat ini, kata Robert, adik kandungnya itu tinggal di kawasan Tawangmangu, Karanganyar.
Menurut Robert, keris-keris ini dikirimkan ke Jakarta ditujukan kepada Jeffri Lengkey. "Jeffri itu adik ipar saya. Saya minta ambil barang itu, kemudian dibawa ke Solo untuk di-warang," ujar dia.
Untuk diketahui, Bea Cukai menahan paket yang berisi sejumlah keris pada Kamis (22/11/2007). Barang ini dikirimkan oleh Rien Notohardjo yang beralamat di 60 Snapper Ave, Key Largo, Florida. Barang ditujukan kepada Jeffri Lengkey yang beralamat di Pamulang Permai, Ciputat, Tangerang dan akan diteruskan kepada RM Notohardjo yang beralamat di Jl. Mataram 12 nomor 7 RT 02/X Solo.
Paket itu berisikan:
1. Keris pusaka tanpa sarung = 16 buah
2. Sarung keris = 4 buah
3. Tombak tanpa gagang = 1 buah
4. Yoswa = 8 buah
Bea Cukai menahan paket itu karena menduga barang-barang itu merupakan barang purbakala dan benda cagar budaya. Hingga saat ini, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata belum bisa memastikan apakah benda-benda itu masuk cagar budaya atau tidak. Keris-keris itu saat ini tengah diteliti oleh pakar keris. (asy/asy)











































