SBY: Indonesia Perjuangkan Negara Berkembang di KTT UNFCCC

SBY: Indonesia Perjuangkan Negara Berkembang di KTT UNFCCC

- detikNews
Rabu, 28 Nov 2007 20:16 WIB
Jakarta - Delegasi Indonesia dalam KTT UNFCCC di Bali akan meperjuangkan usulan Negara-negara berkembang agar Negara-negara maju memberi dukungan pendanaan dan teknologi untuk kegitan reboisasi dan menjaga hutan hujan tropis.

Pembagian tanggung jawab sesuai kapasitas demikian merupakan pola kerjasama yang adil dan wajar, antara Negara-negara berkembang pemilik hutan hujan tropis dengan Negara-negara maju pemilik dana dan teknologi demi mempertahankan keberadaan hutan demi menyelamatkan planet bumi dari malapetaka besar akibat peningkatan gas CO2.

Demikian papar Presiden SBY menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi keterangan pers di kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor, Rabu (28/11/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ke depan kita sangat gigih melakukan penghutanan kembali, mencegah pengurangan hutan secara dramatis. Kita ingin tanam pohon besar-besaran dan tiap pohon akan serap CO2 yang ditakuti dunia. Di dalam konteks ini kita mengeluarkan uang tidak sedikit bagi negara maju untuk bibit pohon
dan pemeliharaan hutan. Jadi mestinya ada kompensasi. Kita berharap dalam framework baru, yang begini-begini dihitung. Termasuk kalau ada sekian hektar kita biarkan sebagai hutan perawan. Itu juga harus dihitung karena berkontribusi pada dunia. Nggak mungkin dong kalau nggak ada apa-apanya," papar SBY panjang lebar.

Itulah nanti akan menjadi materi pokok dari Bali Road Map. Piagam yang ditandatangi seluruh Kepala Pemerintahan negara-negara perserta KTT UNFCCC tersebut akan menjadi dasar bagi disusunnya konsensus global baru tentang
penyelamatan planet bumi menggantikan Kyoto Protocol yang akan berakhir
masa berlakunya pada 2012 mendatang.

SBY mengakui, usulan negara-negara maju tersebut belum tentu langsung disetujui negara-negara maju. Terutama dalam hal besarnya dana kehutanan yang harus mereka sediakan dan bentuk-bentuk bantuan atau kompensasi lainnya bagi negara-negara berkembang.

Kesepakatan di Bali itu pun sifatnya belum final, karena masih harus dibahas lagi di dalam KTT UNFCCC di Praha pada 2008 dan Kopenhagen 2009. Tapi setidaknya Bali Road Map menjadi draft awal bagi penyusunan konsensus baru yang efektif, disetujui dan dilaksanakan seluruh negara di dunia.

"Semua akan berdebat. Itu forum negoisasi demi negoisasi apakah nanti bantuannya adaptation, mitigation, teknologi dan financing. Kita berjuang. Tapi sambil berjuang kita harus sadar merawat lingkungan kita sendiri, termasuk reboisasi itu tadi," tandas SBY.
(lh/bal)


Berita Terkait