Dalam penelitian, anak di bawah 3 tahun melihat layar kaca rata-rata 2 jam sehari. Sedangkan anak 3-5 tahun rata-rata 3 jam sehari. Setelah berusia 6-7 tahun dilakukan penilaian kembali.
"Hasilnya pada anak di bawah 3 tahun menunjukkan penurunan kemampuan membaca, membaca komprehensif, dan penurunan membaca. Sedangkan pada anak 3-5 tahun memiliki kemampuan baca yang baik," kata neurolog anak RSCM, Dr Hardiono D Pusponegoro SpA(K).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hardiono menjelaskan, perkembangan otak terkait dengan adanya sinaps. Sinaps ini butuh nutrisi dan stimulasi. Jika distimulasi, maka sinaps akan berkembang terus.
"Otak itu berkembang sampai 5 tahun. Tapi sekarang nggak seperti itu lagi. Sinaps berkembang hanya sampai 2 tahun," ujarnya.
Hardiono mengatakan, stimulasi yang baik itu sosial yang interaktif, bermain yang eksploratif dan manipulatif, bermain mengutamakan kemampuan anak dalam memecahkan masalah, serta membaca buku.
Menurut Hardiono, dengan menonton televisi, otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain.
"Sehingga membuat anak kurang mengesksplorasi dunia tiga dimensi dan kehilangan peluang mencapai tahapan perkembangan yang baik," ujarnya. Namun diakui Hardiono, tak selamanya televisi buruk bagi anak.
Sementara psikolog anak Elly Risman Musa SPsi menjelaskan, anak sebetulnya butuh banyak bergerak. "Anak di depan TV itu duduk diam, pasif karena nyaman. Sehingga kemampuan imajinasinya, fisik, kreativitas terhambat," jelasnya.
"Anak cenderung agresif, hiperaktif dan anti sosial. Karena anak menganggap nilai-nilai dari televisi ini," katanya.
Menurutnya anak cenderung meniru berbagai perilaku yang ada di TV, karena pada kondisi tertentu, anak tidak bisa membedakan mana yang realitas dan mana yang tontotan. (mly/sss)











































