Menakar Arah Nasionalisme dan Peran Anak Muda di Era Digital

Menakar Arah Nasionalisme dan Peran Anak Muda di Era Digital

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2026 13:51 WIB
RedTalks Indonesia Punya Kita
Foto: Muhammad Aminudin/detikcom
Malang -

RedTalks bertajuk "Indonesia Punya Kita" menjadi panggung hangat yang membahas dinamika hubungan antara generasi muda, partai politik, dan gagasan nasionalisme di era digital.

Diskusi dengan tema 'Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?.

Menghadirkan perpaduan perspektif dari kalangan akademisi, aktivis, komika, hingga politisi muda yang mengurai alasan di balik skeptisisme anak muda terhadap politik modern.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akademisi Suko Widodo mengawali pandangannya dengan menyoroti terjadinya pergeseran nilai dalam cara masyarakat berinteraksi pasca disrupsi teknologi dan pandemi.

Menurut Suko, partai politik perlu merefleksikan kembali akar perjuangannya agar tidak kehilangan sentuhan dengan rakyat bawah.

"Hari ini banyak orang saling berbincang tapi tidak berkomunikasi. Banyak orang yang bertemu, tapi tidak berjumpa," ujar Suko Widodo.

Ia juga menekankan pentingnya partai politik untuk merangkul kembali masyarakat kelas bawah atau marhaen.

"PDI dulu terkenal dengan wong cilik, hari ini sudah gede-gede semua. Apa yang disampaikan untuk kembali ke marhaen, saya kira jadi entry point untuk PDIP harus kembali ke jalan yang benar," tambahnya.

Skeptisisme dan jarak antara anak muda dan partai politik juga diakui oleh budayawan Dwi Cahyono. Ia mengambil contoh wilayah Malang Raya dengan jumlah mahasiswa yang mencapai ratusan ribu orang.

Dwi Cahyono melihat ada potensi besar yang belum terwadahi secara efektif dalam sistem politik formal.

"Apakah orang-orang muda tidak memiliki kepedulian terhadap politik? Sangat peduli. Hanya saja, apakah kemudian memilih memperjuangkan kepedulian politiknya melalui partai politik atau tidak, sampai saat ini belum," jelas Dwi Cahyono.

Ia menganggap sikap skeptis generasi muda saat ini sebagai bentuk evaluasi yang wajar.

"Skeptis sebagai sikap ini dibutuhkan karena dengan mengambil jarak maka ada evaluasi, termasuk evaluasi terhadap partai politik," kuncinya.

Pendapat dari kalangan generasi muda turut diwakili oleh Ketua PMII Cabang Kota Malang Benny Miftahul Arifin yang melihat perlunya edukasi dan akomodasi ruang yang lebih riil dari partai politik hingga ke tingkat terbawah.

"Arah ke depannya, teman-teman ini untuk mau join ke partai itu harus mikir-mikir dua kali dan banyak sekali. Jadi lebih banyak tiarap dan fokus ke individual aja," kata Benny.

Menurut Benny, ruang-ruang diskusi seperti RedTalks harus menjangkau masyarakat bawah.

"Kalau bisa jangan hanya di sini, kalau bisa sampai ke akar-akar bawah, karena masalah itu ada di bawah, tidak ada di atas," tegasnya.

Sementara dari sudut pandang komunikasi dan media sosial, komika Dewangga menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual dan branding yang tepat agar pesan politik dapat diterima oleh generasi masa kini.

"Perannya anak muda sekarang itu di sosmed. Kita harus jago-jago ngebranding supaya orang tuh mau ngelihat kita apa," papar Dewangga.

Ia memberikan contoh bagaimana humor dan kata kunci sederhana di media sosial bisa merekat kuat dalam ingatan publik.

"Partai politik harus melek dengan branding, dan yang laku di sosial media untuk masa yang sekarang dan masa yang akan datang harus dimengerti juga," lanjutnya.

Senada dengan Dewangga, aktivis GMNI M Alif Firdaus menegaskan bahwa cara penyampaian yang ringan dan relevan jauh lebih efektif menarik perhatian anak muda dibanding agenda politik formal lima tahunan.

"Ketika yang disampaikan hanya lelucon, itu malah lebih teringat kepada anak muda. Peran anak muda di zaman sekarang maupun di media sosial itu sangat sentral, entah kita membuat video terkait nanti kita ke depan mau apa, branding kita seperti apa, itu pasti akan dilihat," ungkapnya.

Sementara itu, komika senior Abdel Achrian memberikan catatan kritis terkait bagaimana partai politik mengemas pesan mereka agar tidak terkesan kaku di mata anak muda.

"Packaging-nya di zaman sekarang penting. Begitu masuk anak muda ke partai politik, kosakatanya udah mulai berganti bukan kosakata anak muda lagi, kosakatanya kosakata birokrat banget," tutur Abdel dengan nada humoris namun tajam.

Pengamat politik Rocky Gerung menekankan bahwa pertarungan politik bagi anak muda tidak boleh berhenti pada sentimen atau komodifikasi kosmetik semata, melainkan harus dilandasi oleh argumen dan ideologi yang kuat.

"Kalau Anda cuma memproduksi rasa iri atau jengkel, itu artinya Anda cuma memproduksi sentimen. Yang kita perlukan adalah argumen," tegas Rocky Gerung.

Ia mendorong generasi muda untuk berani menantang gagasan partai politik dengan pemikiran intelektual.

"Mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis. Hanya dengan itu negeri ini bisa dihasilkan kembali. Silakan pacaran, tapi jangan lupa berpikir," pesan Rocky.

RedTalks 2026 mengusung tema "Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi". Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang mempertemukan mahasiswa, aktivis, akademisi, budayawan, hingga tokoh pemuda untuk bertukar gagasan, menyampaikan kritik, sekaligus melakukan otokritik secara konstruktif.

Melalui tema tersebut, penyelenggara ingin menegaskan bahwa masa depan Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh generasi. Anak muda dinilai memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan menuju Indonesia yang demokratis, mandiri, dan berkeadilan sosial.

Dalam pelaksanaannya, RedTalks 2026 akan membahas dua topik utama. Diskusi pertama bertajuk "Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?" yang mengulas meningkatnya skeptisisme generasi muda terhadap partai politik, regenerasi kepemimpinan, hingga kritik terhadap praktik politik saat ini.

Sementara diskusi kedua mengangkat tema "Mandiri atau Menyerah? Jalan Anak Muda Membangun Masa Depan di Tengah Ketidakpastian". Topik ini akan membahas kewirausahaan, ekonomi kreatif, pentingnya upskilling dan reskilling, serta peran negara dalam membuka peluang bagi generasi muda.

Acara dikemas dalam format talk show interaktif selama sekitar tiga jam. Selain sesi pemaparan materi, peserta juga dapat berdialog langsung dengan narasumber, menyampaikan kritik dan masukan, bertukar gagasan lintas generasi, hingga merumuskan rekomendasi sebagai refleksi kebangsaan.

Selain Abdel Achrian, RedTalks 2026 juga menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang. Di antaranya pengamat politik Rocky Gerung, budayawan Drs. Dwi Cahyono, M.Hum., Wakabid Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Qintharra Ulya Yassifa, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Dr. Silvi Asna Prestianawati, S.E., M.Si., serta akademisi FISIP Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si.

Suasana diskusi juga akan semakin semarak dengan kehadiran komika Dewangga yang tampil bersama Abdel Achrian untuk menghadirkan nuansa yang lebih ringan tanpa mengurangi substansi pembahasan.

Adapun suara generasi muda akan diwakili oleh Wakil Ketua BEM Universitas Brawijaya Kafitan Aidil Fitra Sukirman, Wakil Ketua BEM Universitas Wisnuwardhana sekaligus Wakil Koordinator BEM Malang Raya Aryo Bimo Soebagio, Ketua Bidang Politik dan Jaringan DPC GMNI Malang Mochamad Alif Firdaus, serta Ketua PMII Kota Malang Benny Miftahul Arifin.

RedTalks 2026 akan digelar pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 10.00-13.00 WIB, di Auditorium Malang Creative Center (MCC). Masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung tetap dapat mengikuti jalannya acara melalui siaran langsung di detikcom.

Tonton juga video "Menag Bicara soal Kurikulum Cinta: Ciptakan Kualitas Nasionalisme"

(akd/ega)


Berita Terkait