Kesepakatan masyarakat Bali tersebut dicetuskan pada lokakarya bertemakan "Mengangkat Pesan Kearifan Lokal pada Konferensi Perubahan Iklim: Nyepi for the Earth" di Art Centre, Jl Nusa Indah, Denpasar, Rabu (28/11/.2007).
Lokakarya yang diprakarsai Kolaborasi Bali Climate Change dihadiri sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Bali, serta sejumlah unsur masyarakat di Bali, pemuda, pemuka agama, desa adat, akademisi, budayawan, dan pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, juga akan diusulkan menetapkan 21 Maret sebagai hari hening, di mana seluruh dunia dapat berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali Ni Nyoman Sri Widhiyanti mengatakan, telah berkirim surat ke sejumlah pihak, antara lain Presiden SBY dan Menteri Negara Lingkungan Hidup agar dapat membawa pesan tentang Nyepi dalam forum UNFCCC nanti.
Gagasan itu juga bakal disampaikan secara langsung oleh 12 orang Bali selaku pengamat dalam forum itu. Gagasan ini akan ditawarkan di dalam forum resmi maupun luar forum.
Saat perayaan Nyepi, masyarakat Bali telah ikut mengurangi pembuangan gas emisi rumah kaca. Asumsinya, sebanyak 1 juta unit kendaraan tidak mengkonsumsi rata-rata 4 liter bensin se hari dan minimal 80 pesawat tidak mengkonsumsi avtur sebanyak 1.600 kiloliter. 1 liter bensin atau avtur menghasilkan 2,4 kilogram CO2. Jadi, sebanyak 13,5 ton persegi CO2 telah berkurang selama Nyepi.
Pakar dan pengamat lingkungan yang juga salah satu konseptor gagasan itu Hira Jhamtani mengatakan Nyepi adalah untuk mengekang konsumsi dan produksi CO2. Selama Nyepi, alam dapat bernafas selama sehari setelah setahun disesaki CO2.
"Seluruh masyarakat dunia bisa berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghentikan kegiatan serta konsumsi energi selama satu hari," katanya. (gds/djo)











































