Menurut riset yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup sepanjang 2007 itu dilakukan terhadap 20 kota di Indonesia. Antara lain di Jakarta, Bandung, Medan, Sorong, Palangkaraya dan Banjarmasin.
"Paling parah memang Jakarta. Tapi kenyataannya memang Jakarta sudah penduduknya padat, wilayahnya juga sempit," ujar Menneg LH Rachmat Witoelar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Touring dalam rangka menyambut global warning dan perubahan iklim di Bali pada 3 hingga 14 Desember 2007.
Dari riset tersebut, penyumbang perusak udara kualitas udara terbesar dari sektor industri disusul dari transportasi dan rumah tangga.
Untuk sektor transportasi, dari 20 kota tersebut, 10 kota bebas timbal. Sedangkan sisanya masih ada sedikit. 10 Kota tersebut antara lain Jakarta, Bandung dan Denpasar. Sedangkan kota yang masih ada sedikit timbalnya antara lain Banjarmasin, Sorong, Ambon dan Surabaya.
"Yang sekarang memprihatinkan adalah efek buang solar berupa sulfur. Standar euro dua, efek buang sulfur 500 per ppm. Sedangkan saat ini masih banyak yang 3.500 per ppm," jelas Rachmat.
Usai memberikan sambutan, Rachmat melepas puluhan mobil yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang akan melakukan kampanye lingkungan hidup sepanjang Jakarta-Bali.
Menurut Sekjen Gaikindo, Fredy Sutrisno, pihaknya siap memproduksi kendaraan ramah lingkungan.
"Tinggal regulasi pemerintah untuk mendorong bahan bakar yang sesuai dengan baku mutu lingkungan," ujar Fredy.
(nik/sss)











































