Mereka masih menunggu kucuran dana ganti rugi dari pihak PT Jasa Marga.
"Nggak sekarang, kita masih menunggu ganti rugi dari Jasa Marga. Kita tunggulah. Kalau Jasa Marga punya muka, harusnya bayar," cetus Ny Isah, anak ketiga Isa bin Baman, kepada wartawan di Tol Ulujami, Tangerang, Banten, Rabu (28/11/2007).
Isah mengaku menyesal menyerahkan tanahnya untuk pembangunan jalan tol jika tahu kondisinya akan seperti ini. "Dulu daripada dibikin jalan tol mendingan saya bikin kos-kosan atau madrasah," cetusnya.
Dari pantauan di lapangan, tidak terlihat bahan bangunan seperti batu bata, semen dan pasir untuk menembok jalan.
Kuasa hukum warga Andi Rivai menduga warga akan merealisasikan ancamannya suatu saat nanti. "Kalau memang tuntutannya tidak dipenuhi ya akan dicor. Saya hanya mendukung saja," ujarnya.
Ahli waris Isa bin Baman mengklaim, tanah mereka yang dijadikan jalan tol Ulujami mencapai 1.727 meter2. Mereka meminta ganti rugi Rp 2,5 juta per meter2, sehingga total dana yang diharapkan dikucurkan Jasa Marga Rp 4,5 miliar.
Untuk memprotes Jasa Marga yang belum juga mengucurkan ganti rugi,Β warga membangun tenda di dua sisi yang saling berseberangan. Tenda pertama diduduki sekitar 20 ibu-ibu. Sedangkan tenda kedua yang baru dibangun hari ini di seberang tenda pertama dihuni 10 orang warga. Mereka tampak santai duduk-duduk sambil makan dan tiduran.
Pendirian tenda ini membuat arus lalu lintas di dua ruas jalan tol tersebut tersendat hingga 2 km. Aksi warga ini hanya dikawal 5 polisi. Tampak juga sejumlah petugas Jasa Marga. Namun polisi dan petugas ini lebih banyak mengatur arus lalu lintas yang tersendat. Sementara aksi warga tidak terlalu dipedulikan. (umi/nrl)











































