"Wah itu bagus. Silakan saja. Baguslah. Golkar merasa tersanjung jika model konvensi itu digunakan. Meski hanya untuk menentukan calon wakilnya," kata Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso kepada detikcom, Rabu (28/11/2007).
Menurut dia, PDIP berhak meniru model konvensi yang pernah diterapkan Partai Golkar saat dipimpin Akbar Tandjung itu. Sekalipun, konvensi itu hanya untuk menentukan nama pendamping Megawati Soekarnoputri yang telah diputuskan terlebih dahulu sebagai capres 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia pun merasa bangga jika langkah demokratisasi dalam parpol itu diikuti oleh partai lainnya. "Bagus misalnya diikuti PKB, jadi tidak otomatis capresnya Gus Dur. Begitu pula yang lainnya. Itu pertanda demokratisasi makin berkembang dalam parpol," urainya.
Tetap Konvensi
Menurut Priyo, Partai Golkar sebenarnya tidak meninggalkan metode konvensi untuk menjaring nama capres dan cawapres yang akan diusung pada pilpres 2009 nanti.
"Tidak berarti kita meninggalkan konvensi. Konvensi itu kan hanya istilah yang sebenarnya dalam AD-ART Golkar itu tidak ada. Yang ada, rapat pimpinan nasional, atau rapat pimpinan daerah untuk menentukan cagub. Itulah yang kemudian disebut orang dengan konvensi," jelasnya.Β
(fiq/ndr)











































