"Itu patut disayangkan. Mestinya SBY itu tidak reaktif seperti ini. Kalau bahasa ABG-nya itu terlalu sensi," kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris kepada detikcom, Selasa (27/11/2007).
Menurut Syamsuddin, gaya berpolitik seperti ini tidak lazim. Bagaimana pun, meski ada perbedaan pandangan politik, pemimpin tidak harus saling menjatuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syamsuddin menjelaskan, jika ada perbedaan pandangan mestinya tidak bersifat personal. "Di satu sisi mungkin Pak SBY terpancing, dan di sisi lainnya bisa karena personal. Kalau makin lama, makin personal. Penguasa mestinya nggak reaktif," pungkasnya. (mly/sss)











































