PDIP telah menetapkan Mega sebagai capres yang diajukan partai berlambang banteng moncong putih itu. Namun untuk cawapresnya belum ada.
"Kita ingin mendorong calon dari bawah seperti konvensi Golkar. Namun kita lakukan pengecekan juga dari eksternal, karena orang itu tidak hanya maju, tapi didukung oleh masyarakat, sehingga kombinasinya bisa berjalan," kata Sekjen PDIP Pramono Anung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pram kemudian memaparkan keuntungan Golkar saat menggelar konvensi 2004. "Konvensi itu menyemarakkan Golkar. Waktu yang panjang dari konvensi itu membuat publikasi yang terus menerus dan di-blow up beritanya, sehingga selalu muncul di media massa," urainya.
Soal Golkar yang tidak lagi menggelar kovensi, Pram mengaku tidak mau ikut campur keputusan partai lain.
Mengenai calon pendamping Mega, Pram menyatakan, semuanya bisa masuk. Sekalipun sejumlah survei menjagokan duet Mega dengan Din Syamsuddin, namun PDIP belum memutuskan cawapres yang akan diusung.
"PDIP memutuskan lewat proses kelembagaan. Melalui Rakornas III akan ditampung semua usulan cabang seluruh Indonesia, dan dalam Rakernas IV tahun depan akan diputuskan siapa yang akan mendampingi Ibu Mega," kata Pram.
Menurut Pram, secara legislatif, PDIP masih tertinggi. Tapi secara head to head capres, masih antara Mega dengan SBY. (sss/ana)











































