Kobaran api melalap tumpukan sampah di sejumlah lokasi, mulai dari Depok hingga Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rentetan insiden ini terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Dirangkum detikcom, insiden kebakaran sampah ini pertama kali terjadi di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, pada Selasa (30/6). Petugas membutuhkan waktu sepekan lebih untuk memadamkan api di tumpukan sampah tersebut.
Kebakaran tersebut menghanguskan area seluas belasan hektare. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang pun menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran di TPA Jatiwaringin pada 1-14 Juli 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan kebakaran sampah di TPA Jatiwaringin. BNPB bersama sejumlah pihak terkait menerapkan berbagai metode untuk menjinakkan kobaran api.
Api di tumpukan sampah TPA Jatiwaringin baru berhasil dipadamkan total setelah 10 hari. Adapun luas lahan yang terdampak mencapai 15 hektare.
"Lahan utama TPA Jatiwaringin seluas kurang lebih 15 hektare yang terdampak kebakaran dilaporkan telah berhasil dipadamkan 100 persen dan saat ini berada dalam fase pendinginan intensif," kata Kapusdatin BNPB Abdul Muhari, dilansir kantor berita Antara, Jumat (10/7).
TPS di Kabupaten Bogor
Setelah Kabupaten Tangerang, tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal di Cikeas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, juga terbakar pada Selasa (14/7). TPS tersebut kemudian kembali terbakar pada Kamis (16/7).
"Terakhir itu hari Selasa sudah padam, sudah beres. Tapi memang infonya hari ini keluar asap lagi. Waktu kejadian awal asapnya memang tebal, pekat kalau sore. Makanya warga perumahan sekitar situ banyak yang komplain," kata Wakil Komandan Pemadam Kebakaran Sektor Gunung Putri, Lukman Habib, Kamis (16/7).
Lukman menjelaskan bahwa kebakaran berlangsung berhari-hari karena api terus muncul dari bawah tumpukan sampah yang ketebalannya mencapai 10 meter. Medan yang sulit dijangkau juga menjadi kendala tambahan dalam proses pemadaman.
"Jadi (yang terbakar) memang tempat sampah ilegal sebenarnya. Infonya itu sampah dari perumahan, dibuang ke situ. Info yang kita dapat juga katanya lahannya mau dijadikan lahan parkir, makanya dibuang lah sampah ke situ buat nguruk," kata Lukman.
"Ketinggian sampahnya itu sudah sampai 10 meter. Makanya kita minta bantuan alat berat buat mengurai tumpukan sampahnya. Semua metode sudah kita pakai buat memadamkan api. Makanya berhari-hari, butuh dibantu alat berat," lanjut Lukman.
Lukman menduga kebakaran dipicu oleh pengelola lahan yang membakar kasur di sekitar tumpukan sampah. Api yang membesar kemudian menjalar hingga mengakibatkan kebakaran besar dan menimbulkan asap pekat.
"Jadi info yang kita dapat memang pengelola sempat bakar kasur di situ, mungkin jadi membesar apinya dan merembet. Di lokasi juga saya lihat memang ada sisa kasurnya, ada kerangkanya sudah terbakar," ungkap Lukman.
"Kita masih lakukan pemantauan sampai hari ini. Kita juga sudah lapor ke pihak kecamatan agar ditindaklanjuti," imbuhnya.
TPA Cipayung
Insiden kebakaran sampah selanjutnya terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok. Kebakaran terjadi pada Kamis (16/7) pukul 19.30 WIB, dan api berhasil dipadamkan pada pukul 22.52 WIB.
Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, mengungkapkan bahwa kebakaran sempat membesar diduga akibat akumulasi gas metana.
"Jadi memang ada titik api muncul, kemudian membesar mungkin karena ada gas metana ya di sekitar situ. Jadi seperti langsung, apinya langsung membesar, menjalar seperti itu," kata Chandra saat ditemui di TPA Cipayung, Jumat (17/7/2026).
Chandra mengatakan penyebab pasti kebakaran masih diselidiki. Beberapa saksi juga sudah dimintai keterangan oleh pihak Polres Metro Depok.
"Masih diselidiki. Kemarin beberapa saksi sudah dimintai keterangan oleh pihak Polres dan sampai saat ini hasil penyelidikannya kami belum mendapat update. Hanya terlihat memang kalau di CCTV, dari titik mulainya api memang terlihat tidak ada orang ya di situ," katanya.
Meski begitu, Chandra memastikan tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam insiden ini. Chandra menyebutkan juga tidak ada kerusakan harta benda material.
"Kami bisa sampaikan di sini tidak ada korban jiwa ataupun korban luka-luka dan juga tidak ada kerusakan harta benda material di sini," imbuhnya.
Imbauan Rutin Siram Sampah
Untuk mencegah peristiwa kebakaran di tumpukan sampah terulang, pemerintah daerah mengimbau agar sampah di TPA rutin disiram air.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti, mengatakan kondisi TPA Cipayung saat ini sudah kelebihan beban (overload). Saat ini, terdapat sekitar 2,9 juta ton sampah yang menumpuk di TPA Cipayung.
"Masih, kalau overload masih, bisa dilihat kan kondisinya. Kita sekarang ini ada 2,9 juta ton sampah yang ada di lingkungan TPA. Ya berarti kan memang sehari timbunan sampah yang dibuang ke TPA itu kurang lebih sekitar 900 sampai 1.000 ton," ujar Reni.
Reni mengatakan kondisi TPA yang kelebihan beban tersebut perlu diantisipasi dengan serius. Oleh karena itu, ia meminta petugas pemadam kebakaran untuk menyiram area TPA dua kali sehari guna mengantisipasi dampak cuaca panas.
"Nah, ini yang harus kita antisipasi nih ke depan setelah kejadian ini. Makanya nanti ada beberapa hal. Di sini sendiri tadi saya sudah minta tolong ke damkar yang ada di lokasi sini supaya satu hari itu minimal dua kali penyiraman untuk antisipasi karena memang cuaca kan sedang panas, ya," ungkapnya.
"Jadi satu hari dua kali penyiraman ya Pak UPT, minta tolong, nah, itu juga. Dan hari ini kami minta ini tetap disiram sampai pagi," tambahnya.
Simak juga Video 'TPA Cipayung Depok Kebakaran, 4 Mobil Pemadam Diturunkan':










































