Hal itu disampaikan KSAU Marsekal TNI Herman Prayitno usai HUT ke-51 Persatuan Istri Ardhya Garini di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (26/11/2007).
"Jadi, jabatan panglima TNI bisa dijabat siapa saja, termasuk KSAD (Jenderal TNI Djoko Santoso) maupun KSAL (Laksamana TNI Sumardjono)," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herman menyerahkan sepenuhnya penentuan calon panglima TNI menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto kepada Presiden SBY.
"Semua sudah didiskusikan sebaik-baiknya. Jabatan panglima jabatan yang berat, suatu panggilan. Jadi kita punya kesiapan yang matang, tidak ada berandai-andai. Semua sudah sepakat, keputusan di presiden," ujarnya.
Ditegaskan Herman, walau ada pergantian panglima, TNI tetap tidak akan mengubah paradigma yang dulu, yaitu terus melanjutkan reformasi TNI. "Saya mengharapkan, pergantian panglima tidak menyurutkan untuk melanjutkan reformasi TNI," katanya.
Namun Herman enggan mengomentari siapa calon yang disiapkan untuk menjabat panglima. "Bukan wewenang saya untuk mengungkap hal itu. Yang jelas, TNI sudah melalui Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tertinggi (Wanjakti) yang ketat. Finalnya diputuskan panglima tertinggi, yaitu presiden," jelasnya.
Sementara untuk pengganti KSAU, menurut Herman, biasanya disiapkan 3-5 calon yang akan diputuskan dalam Wanjakti. "Akan dipilih satu orang untuk menggantikan saya. Saya tidak berwenang untuk mengatakan," elak Herman lagi.
Apakah Wakil KSAU Marsekal Madya TNI Subandrio yang akan menjadi penggantinya, Herman mempersilakan wartawan untuk menebak-nebak. "Sesuai ranking dapat diketahui kira-kira siapa. Yang jelas, kami sangat berhati-hati, sesuai dengan aturan baku yang menjadi konvensi kita selama ini," pungkasnya. (zal/sss)










































