"Dugaan air minum isi ulang itu tercemar ada setelah kita rapat," ujar Wakadinkes Pemprov DKI Jakarta Salimar Salim usai rapat dengan Wagub Prijanto di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2007)
Menurut Salimar, Dinkes sudah membentuk tim untuk memeriksa sampel air isi ulang. Jika terbukti air isi ulang itu tercemar, maka produsen maupun distributor di Jakarta Utara akan diberi sanksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dituturkan Salimar, pihaknya telah mengambil sampling air isi ulang di Jakarta utara, yang diduga menyebabkan diare.
Namun, hingga kini, dikatakan Salimar, penyebab utama diare di Jakarta Utara yakni langkanya air bersih. Untuk itu, pihaknya akan mengumpulkan kepala Puskesmas seluruh kecamatan dan kelurahan untuk mengadakan penyuluhan air bersih dan pemberian kaporit terhadap sumber air warga.
Untuk biaya pengobatan, menurut Salimar, masyarakat yang terkena diare dibebaskan dari biaya.
"Biayanya gratis dari Puskesmas sampai rumah sakit. Orang kaya pun tetap digratiskan," kata dia.
Sampai hari Senin ini, menurut Salimar, diare telah merenggut 6 nyawa balita dan keseluruhan korban mencapai 113 orang. Rinciannya, 105 balita dan 8 orang dewasa.
"Untuk keadaan sekarang, belum ditetapkan KLB. Kalau KLB, sudah mencapai 749 kasus," ujar dia.
Sedangkan wilayah yang rawan diare di Jakarta Utara, menurut Salimar, yakni di Lagoa, Semper Barat, Rawabadak Selatan dan Tanjung Priok.
"Saya lihat tidak ada peningkatan kasus diare di wilayah lain. Ini hanya di Jakarta Utara," tandas dia.
(nik/nrl)











































