Sinyelemen itu disampaikan pakar museum Universitas Gadjah Mada (UGM) Djoko Dwiyanto di kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta, Senin (26/11/2007).
Barang berharga lainnya yang diduga hilang adalah oleh Djoko adalah piring keramik dan lampu kristal. Kedua benda tersebut merupakan hadiah Napoleon Bonaparte dari Perancis kepada Raja Paku Buwono. Piring-piring bersejarahh itu kemungkinan sudah diganti dengan piring yang dibeli dari pasar loak dan barang antik di Kota Solo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Djoko, piring pemberian Napolean itu sama seperti kelima harta yang sempat hilang itu. Piring keramik dan kelima arca tersebut merupakan kebanggan Museum Radya Pustaka.
"Hanya saja, soal ini (piring dari Napoleon hilang) sampai sekarang masih dibantah oleh pengelolanya," ungkap staf pengajar jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM itu.
Djoko menambahkan, kasus hilangnya 5 arca itu hanya sebagian dari maraknya kasus pemalsuan barang-barang koleksi museum yang melibatkan para mafia benda purbakala. Bahkan tidak menutup kemungkinan pengelola museum dan kolektor besar benda-benda purbakala ikut bermain dalam kasus tersebut.
"Kasus pemalsuan barang koleksi museum di Radya Pustaka sebenarnya sudah ada sejak lama, jauh sebelum kasus ini bergulir," katanya.
Djoko mengaku, informasi kasus pemalsuan barang-barang koleksi museum itu didapat dari salah seorang mahasiswanya. Mahasiswa itu meminta perlindungan karena kerap diteror oleh pengelola museum Radya Pustaka.
"Bulan September awal, ada mahasiswa saya yang pernah bekerja di Radya Pustaka meminta perlindungan pada saya. Dia tahu soal pemalsuan arca tersebut," katanya.
Menurut Djoko, kasus pemalsuan ini menunjukkan kurangnya pengawasan terhadap kelestarian benda-benda bersejarah. Akibatnya, banyak barang koleksi asli yang hilang lalu dipalsukan dengan melibatkan para pengelolanya.
"Saya sangat yakin ada keterkaitan dengan orang dalam. Realistis saja, siapa sih yang mengunjungi museum saat ini. Orang akan mengunjungi museum itu hanya dua kali, pertama saat menjadi anak-anak karena diajak oleh kedua orang tuanya. Setelah itu saat menjadi orang tua lalu mengajak anak-anaknya," demikian Djoko (bgs/djo)











































