Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung pemimpin pengkhianat yang coba membakar-bakar Republik Indonesia setelah kalah. Siapa pemimpin yang dimaksud Prabowo?
Sebagai informasi, Presiden Prabowo menyampaikan perihal pemimpin pengkhianat saat acara puncak Hari Koperasi Nasional di Indonesia Arena, GBK, Jakarta, Minggu (12/7) lalu. Saat itu, Prabowo hanya menyinggung tapi tidak menyebut jelas siapa yang dimaksud.
Analisis Komunikasi Politik
Pakar Komunikasi Politik UGM Profesor Nyarwi Ahmad mencoba menerka siapa sosok pemimpin yang dimaksud Prabowo. Ia awalnya mengakui agak sulit menebak siapa yang dimaksud Prabowo.
"Menurut saya itu agak susah ditebak ya," kata Nyarwi saat dihubungi, Rabu (15/7/2026).
Ia lantas mencoba menganalisis pemimpin pengkhianat dari klaster mantan capres-cawapres lawan Prabowo dan ketua umum parpol. Dia menyebut mantan capres-cawapres lawan Prabowo tidak memungkinkan lantaran tidak punya sumber daya untuk menjadi pengkhianat.
"Yang pertama misalnya, kan kita tahu ya pasangan capres-cawapres yang dicalonkan kemarin juga menurut saya tidak punya resources maupun atau pengaruh sekuat itu," ucap Nyarwi.
Selain itu, Nyarwi menilai mereka juga mulai meredup belakangan ini. Dia juga tidak melihat ada statement provokatif dari para mantan capres-cawapres
"Ya, termasuk opini-opininya juga saya kira belakangan bahkan meredup, kan. Ganjar misalnya begitu, Anies juga begitu. Ya kan? Dan saya belum pernah melihat juga ada statement provokatif dari mantan capres-cawapres gitu ya yang jadi kompetitor Pak Prabowo yang menyuarakan gitu, baik secara terbuka atau mungkin dibahas orang secara tertutup," jelas dia.
Selain itu, dia mengatakan salah satu cawapres, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, bahkan bergabung dengan pemerintah saat ini.
Kemudian, Nyarwi juga ragu pemimpin yang dimaksud merupakan ketum parpol. Menurutnya, 84 persen parpol saat ini berada di dalam pemerintahan.
"Terus kalau partai-partai politik, hampir semua partai politik itu sekarang ada dalam koalisi Pak Prabowo, sekitar 84%," ujar dia.
Dia menilai PDIP, yang berada di luar, juga tidak mungkin menjadi pengkhianat dengan membuat Indonesia rusuh. Dia menilai PDIP sudah matang dalam berdemokrasi.
"Pun yang kita anggap itu tersisa kan PDIP. Dan saya kira PDIP sudah cukup matang gitu loh untuk berdemokrasi. Dan juga kita bisa simak ya, belum ada sepertinya dari elite PDIP mana pun yang kemudian ketika menyikapi atau beropini menilai atau melihat perkembangan demokrasi, demonstrasi, dan seterusnya, muncul suara-suara atau imbauan namanya melakukan tindakan kekerasan dalam demokrasi, apalagi pembakaran," tutur dia.
Nyarwi menduga yang dimaksud Prabowo merupakan oligarki yang publik tidak tahu. Namun, ia tidak bisa menyebut siapa orangnya.
"Mungkin dugaan saya, ini dugaan saya ya, bisa jadi yang dikhawatirkan Pak Prabowo itu bukan dari yang dua tadi. Saya tidak melihat dari dalam juga ya, tapi mungkin, bisa jadi ya, kita yang tidak tahu, oligarki-oligarki yang merasa tertekan atau tidak nyaman dengan gaya pemerintahan Pak Prabowo hari ini. Itu yang sering kita dengar," ungkapnya.
"Nah, ini... ini pun masih abstrak juga, kan? Masih abstrak juga gitu. Jadi, apa yang disampaikan Pak Prabowo saya kira lebih mudah kita lihat sebagai retorika presiden yang nasionalis populis," sambung dia.
(zap/gbr)