Pemberhentian terakhir arca-arca itu diketahui dari mulut Heru Suyanto, pedagang barang antik yang berdomisili di Solo. Arca Agustya, Arca Durga Mahesa Sura Madini, Arca Durga Mahesa Sura Madini II, Arca Siwa dan Arca Mahakala, semuanya diborong Heru dari Museum Radya Pustaka.
Caranya, dengan mengajak kongsi Kepala Museum Radya Pustaka Solo KRH Darmodipuro. Pria yang akrab disapa Mbah Hadi ini kemudian menyuruh Jarwadi, juru kunci Museum, dan Gatot, petugas keamanan museum untuk melancarkan upaya pencurian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah puluhan tahun benda-benda seni peninggalan yang ada di museum berpindah tangan. Benda-benda itu diperjualbelikan secara bebas,"jelas Titis Srimuda Witama, peneliti arsitektur keraton kepada detikcom.
Ungkapan Titis dikuatkan dengan hasil temuan Lembaga ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa tengah, yang melakukan inventarisasi di Museum Radya Pustaka, dua pekan lalu.
Dari hasil inventarisasi BP3 tersebut diketahui, beberapa benda sejarah telah raib. Masing-masing, lima arca batu, tiga arca perunggu peninggalan abad ke-IX, satu lampu gantung perunggu, satu piring porselin dari Cina abad ke-VII, serta tempat buah kristal mewah pemberian Napoleon Bonaparte kepada Pakoeboewono VI.
BP3 akhirnya melaporkan temuannya itu kepada polisi, 9 November silam. Namun hingga sekarang baru lima arca yang berhasil ditemukan. Sedangkan tiga arca perunggu dan beberapa barang antik yang lain belum ketahuan kemana rimbanya. Sekalipun polisi telah menciduk Mbah Hadi, Heru Suyanto, Jarwadi dan Gatot.
Anehnya, sejumlah pemerhati sejarah di kota Solo merasa tidak kaget dengan hilangnya arca dan benda-benda seni kuno tersebut.
Sebab, menurut mereka sudah sejak lama museum yang berada di Jalan Slamet Riyadi itu, memang tidak terurus.
Padahal Museum Radya Pustaka memiliki koleksi beragam yang berasal dari berbagai wilayah Nusantara. Puluhan arca yang berasal dari peninggalan raja-raja pada abad ke-VII hingga abad ke IX, ada di museum itu. Begitu juga dengan berbagai peninggalan Keraton Surakarta, seperti perangkat gamelan, berbagai seragam abdi, dan tandu para bangsawan. Bahkan lampu kristal tanda mata dari Napoleon Bonaparte pun terpajang di museum itu.
Selain benda-benda tersebut, beberapa karya sastra kesohor milik anak bangsa juga berjajar di sana. Sebut saja Naskah-naskah sastra karya pujangga Ronggowarsito. Selain itu, museum yang didirikan 1890 itu, juga memiliki koleksi sastra Jawa klasik karya Yasadipura, kakek Ronggowarsito, dan beberapa pujangga Jawa lainnya.
Namun semuanya bagai deretan barang bekas yang tiada arti. "Para pengunjung kebanyakan datang ke museum hanya ingin diramal oleh Mbah Hadi, bukan untuk melihat dan mempelajari sejarah " kata Darmono, sejarawan yang tinggal di Solo.
Sosok Mbah Hadi memang lebih dikenal sebagai paranormal ketimbang kurator. Karena Mbah Hadi merupakan ahli pawukon atau horoskop Jawa. Jadi tamu-tamu yang datang ke museum tujuannya bertemu dengan Mbah Hadi untuk meminta petunjuk hari-hari baik dan (ddg/ddg)











































