Lelaki yang selama di Madinah tinggal Hotel Elyas Zahabi di Sektor II tersebut adalah salah seorang jamaah haji asal Kabupaten Asahan yang berangkat bergabung pada kloter 1 embarkasi Medan, Sumut. Teman-teman satu kloter dengannya telah diberangkatkan ke Makkah Sabtu malam. Merasa ketinggalan, dia berusaha menyusul.
Tapi rupanya persoalannya tak berhenti di situ. Salah seorang petugas keamanan di Daker Madinah menuturkan, jamaah itu memang telah memiliki masalah kejiwaan sebelumnya. Dokter pendamping jamaah di kloter I Medan dipukulinya. Bahkan dia sempat dikirim ke RS Al Anshar untuk perawatan, namun melarikan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang perlu disesalkan adalah kenapa tim kesehatan yang mendampingi kloter itu tidak melapor ke Daker bahwa ada jamaahnya yang ditinggal ketika rombongannya berangkat ke Makkah. Jika dilaporkan pastinya kami sejak awal telah menanganinya," ujar petugas keamanan tersebut sebagaimana dilaporkan reporter detikcom di Madinah, Muchus Budi Rahayu.
Setelah ditinggal, dia rupanya terus mencari rombongannya ke sana ke mari hingga ditemukan oleh petugas di Sektor IV yang berlokasi cukup jauh dari pemondokannya, Senin dinihari. Mengetahui ada yang tidak beres pada kejiwaan si jamaah, oleh petugas Sektor IV dia lalu diantar ke BPIH.
Di BPIH, dokter memberikan obat penenang agar bisa beristirahat. Namun dia masih terus gelisah, berjalan ke sana ke mari, keluar menuju ke jalan dan selalu berusaha membuka pintu setiap mobil enggan berkata hendak menuju Makkah.
Petugas kesehatan dan keamanan yang berusaha menenangkan dipukuli setiap mendekat. Kejadian itu berlangsung cukup lama. Maklum, si jamaah masih berusia 37 tahun dan badannya cukup tegap, sehingga jika dia mendekat, para petugas lari menjauh untuk menghindari amukan.
Pelaksana petugas keamanan Daker Madinah, Letkol (Mar) Syarifuddin, memanggil beberapa anak buahnya untuk menangani jamaah bermasalah itu. Akhirnya setelah hampir satu jam, pukul 03.30 WAS, lelaki itu berhasil dipegang dan diikat. Obat penenang kembali disuntikkan padanya.
Masalah si jamaah itu selesai setelah dia tertidur pulas, namun masalah lain timbul. Seorang jamaah wanita yang sedang dirawat di BPIH segera lari keluar BPIH begitu mengetahui dia dirawat bersama orang yang sedang terganggu kejiwaannya.
Upaya petugas membujuk si ibu tua itu agar tetap tinggal karena masih lemah selalu ditolak dengan alasan sudah sembuh. Akhirnya pihak BPIH mengijinkan dia untuk tidak dirawat di BPIH, namun di ruang rawat sektor tempat si ibu menginap.
(mbr/sss)











































