"Sah-sah saja, capres dari kaum muda atau paling muda. Tapi sekali lagi, mekanisme harus dari bawah. Katanya demokrasi. Sekarang yang muda kita lempar ke pasar, laku atau tidak. Makanya nanti kita survei," ungkap Sekjen DPP Partai Golkar Soemarsono di sela-sela Rapimnas Partai Golkar di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (25/11/2007).
Dia juga mengatakan, selain dari kaum muda, survei Partai Golkar juga bisa menjaring tokoh-tokoh eksternal, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Hidayat Nurwahid, Soetrisno Bachir, Tifatul Sembiring atau Din Syamsuddin.
"Ya mungkin bisa berjumlah 15 sampai 20 orang," kata Soemarsono.
Survei ini pun terlepas dari target perolehan suara Golkar sebesar 30 persen dalam Pemilu 2009. Tidak ada jaminan, pemenang Pemilu berhasil memenangkan Pilpres.
Soemarsono pun mencontohkan dalam berbagai pilkada, salah satunya di Jambi. Di Jambi, meski Partai Golkar menang, gubernur terpilih Zulkifli Nurdin berasal dari PAN.
"Saya ingin mengajarkan, masyarakat Jambi rasional. Jadi kalau 30 persen, kita lihat dulu survei, tidak bisa berandai-andai," kata Soemarsono.
Untuk survei ini, Golkar akan menggandeng lembaga-lembaga survei yang sudah teruji kredibilitasnya. Dia mencontohkan beberapa nama seperti LSI pimpinan Saiful Mujani, LSI pimpinan Denny JA, LP3ES dan Indobarometer pimpinan Qodari.
"Seperti LSI, itu adalah perangkat yang secara akademis masih bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin kita gunakan ini, sebagaimana kita gunakan dalam Pilkada," pungkas Soemarsono.
(aba/asy)











































