Pemerintah Tidak Mau Dibilang Telat Tangani Manusia Pohon

Pemerintah Tidak Mau Dibilang Telat Tangani Manusia Pohon

- detikNews
Minggu, 25 Nov 2007 14:22 WIB
Bandung - Setelah Dede (38) - si manusia pohon - muncul di media massa, pemerintah Indonesia langsung sigap memperhatikan dan menanganinya. Pemerintah tidak mau dibilang terlambat menangani dibanding pihak asing.

"Siapa bilang terlambat? Kan pada tahun 1996 dia pernah diobati di sini selama 460 hari. Namun, memang pada saat itu, dia sudah dioperasi dua kali. Kutil-kutilnya sempat dibakar dan sembuh. Dia pun meninggalkan RS. Tapi, seminggu kemudian muncul lagi," kata Menkes dalam jumpa pers seusai menjenguk Dede di RSHS, Bandung, Minggu (25/11/2007).

Namun, Menkes tidak menjelaskan apakah setelah keluar RSHS, pihak Dinkes terus mengawasinya. Juga tidak ada penjelasan, mengapa setelah kutil-kutil Dede tumbuh lagi (saat ini berbentuk menyerupai akar-Red), Dinkes tidak membawa Dede ke RSHS hingga akhirnya saat ini Dede muncul di media massa dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.ย Yang jelas, Menkes saat ini sangat menyesalkan komersialisasi gambar Dede oleh media, terutama oleh Discovery Channel. Mengapa pemerintah tidak berterima kasih kepada Discover Channel, karena dengan dimunculkannya ke media, kasus Dede jadi terperhatikan?
"Itulah luar negeri yang selalu ingin menjadi pahlawan. Kenapa dari pihak luar? Kita kan pemerintah punya tanggung jawab membiayai orang miskin," kata Menkes.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski nanti hasil observasi dari dokter ternyata Dede tidak bisa diobati di sini, maka pemerintah tidak bisa melarang pasien itu diobati di luar negeri. "Ini namanya referal system. Di mana setiap negara yang belum mampu mengobati suatu penyakit, tidak boleh melarang pasiennya diobati di negara lain. Itu salah kalau dilarang," tegas dia.

Menkes juga menegaskan pemerintah saat ini bukan bermaksud untuk mengambil alih kasus Dede. "Tapi kita punya kewajiban membantu pasien yang miskin. Dede itu kan tidak punya penghasilan. Janganlah sudah sakit, lalu dieksploitasi. Saya meminta berikan hak kepada pasien semestinya," pinta Menkes. (asy/mar)


Berita Terkait