Kesimpulan itu diperoleh dalam konferensi mengenai pertanian dan perubahan cuaca di Hiderabad, India, Sabtu (24/11/2007) lalu.
Seperti diketahui, tanaman memerlukan air. Ketika temperatur meningkat, ketersediaan air akan menjadi masalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, climate change juga membuat bencana yang diakibatkan cuaca juga meningkat. "Kita akan didatangi topan, angin puting dan badai," imbuh Hughes. Akibatnya, petani sayuran terpaksa menanam komoditi lain yang bisa menyesuaikan diri dengan cuaca baru itu.
Selain itu, penyakit-penyakit yang berkembang karena climate change juga memperparah keadaan. Muncul penyakit-penyakit tanaman yang sama sekali baru dan memiliki daya sebar yang luas.
Para ilmuwan itu menyebutkan sebuah penyakit yang diidap kentang akibat perubahan cuaca. Penyakit yang sama pernah menyebabkan Irlandia mengalami kelaparan tahun 1840-an.
"Penyakit ini berkembang biak dengan sangat cepat," kata Dyno Keatinge, Wakil Ketua Riset Institut Penelitian Tanaman Internasional.
Konferensi itu merekomendasikan, penanganan akibat climate change atas tanaman juga penting, mengingat satu miliar orang mengalami kekurangan berat badan dan kurang gizi. Dikhawatirkan, jika tak segera ditanggulangi, syarat orang dewasa harus memakan 74 kg sayur per tahun tak akan lagi bisa terpenuhi.
(aba/asy)











































