Euis disalurkan sponsor yang tidak terdaftar di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dia berangkat ke Malaysia pada Desember 1996. Sejak keberangkatannya, Euis hanya sekali mengirimkan surat setelah 4 bulan bekerja.
"Isi surat hanya menanyakan kabar Lesa (putri tunggal Euis) saat usianya 6 tahun," kata suami Euis, Didin Sucipto (42), kepada detikcom, Minggu (25/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal Euis tidak pernah lupa mengirim surat kepada kami ketika bekerja di Arab Saudi selama 2 tahun. Dia selalu mengirimkan uang hasil kerjanya stiap 6 bulan," ujar pria yang bekerja sebagai buruh pembuat genting ini.
Bahkan meninggalnya ayah Euis belum dikabarkan karena keluarga tidak tahu harus memberitahukan kemana.
Euis disalurkan sebuah jasa PJTKI di Kampung Melayu Jakarta Timur yang dihubungkan oleh sponsor bernama Mantri (49). Euis bekerja sebagai pembantu di Malaysia karena ingin memperbaiki perekonomian keluarga dan menyekolahkan Lesa.
Kondisi ekonomi yang terbatas membuat Lesa yang sudah berusai 17 tahun tidak dapat menyelesaikan studinya.
(mly/mly)










































