Sesekali terlihat hamparan padang kelapa sawit. Selain itu, juga tanah gersang dengan puluhan bonggol kayu serta tanah berdebu teronggok di depan mata. Hanya langit biru dengan awan putih yang elok mendinginkan terik matahari Bengkulu.
"Kami tidak bisa berbuat banyak, kami butuh makan. Menjadi kuli penebang pohon cara paling mudah," kata Kosim, mantan Lurah Kemumu, Bengkulu Utara, di desanya, Sabtu (24/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi tidak mendadak. (Butuh) waktu lama untuk dapat bibit sawit. Bisa bertahun-tahun," imbuhnya.
Tenggang waktu itu yang membuat lahan tidur tersebut "berkarat". Hanya ditumbuhi belukar dan pohon perdu. Bila hujan tanah jadi rawan longsor. Jika kemarau berubah menjadi merekah, panas dan berdebu. Itu belum terhitung ekosistem flora (hewan) yang ikut punah.
"Kami minta 5 bibit sawit per-KK. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengangkat ekonomi keluarga," imbuh Gubernur Bengkulu, Aguslin Najamuddin di depan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Lukman Eddy yang mengunjungi Bengkulu 23-24 November 2007.
Keinginan itu wajar jika kita melihat data statistik. Bengkulu memang terbilang paling tertinggal dibanding daerah lain. Dari 311 desa, 166 tertinggal. 112 desa bahkan belum menikmati listrik PLN sebagai akses ke sektor penting lainnya. Belum lagi ancaman gempa bumi dengan skala diatas 6 sR.
Namun, benarkah persoalan selesai bila masyarakat menjadi petani sawit. Dalam batas tertentu, iya. Akan tetapi persoalan akan terus bermunculan terutama soal kesejahteraan petani, monopoli perusahaan pengolah sawit, pendidikan dan kesehatan.
"Targetnya tidak ada daerah tertinggal lagi tahun 2015. Sebagai contoh, dianggarkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sampai Rp 800 M tahun 2007. 2008 ada Rp 280 M," cetus Lukman Eddy optimis.
Menunggu 2015 tentu cukup lama. Masih banyak kemungkinan terjadi baik secara kebijakan, perubahan politik, maupun sosial ekonomi. Toh demikian, kemajuan sudah sulit lagi ditawar. Ia mesti diraih dengan segala konsekuensinya, dengan harga yang musti terbayar, seperti kerusakan hutan tersebut.
Lalu, perhatian kembali tertuju pada tepi jalan Bengkulu-Kab Kaur yang berjarak 210 km. Tampak rumah sederhana dengan dinding papan, sebagian mulai ditembok ataupun masih panggung. Anak kecil pulang sekolah dengan kaki berbalut sepatu butut dan baju yang mulai lusuh. Hanya sedikit terlihat pemuda ataupun orang tua
(Ari/mly)











































