"Kita sudah saatnya untuk mempunyai target pengembangan militer yang pasti, dalam bentuk grand strategy TNI dan pertahanan yang ideal," kata peneliti dan pengamat pertahanan dari Institute for Defence Security and Peace Study (IDSPS) Connie Rahakundini Laspetrini Bakrie, di sela-sela peluncuran bukunya berjudul 'Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal' di Bimasena Hotel Darmawangsa,Jakarta Selatan, Sabtu (24/11/2007).
Lebih lanjut Connie menerangkan, saat ini ancaman terhadap kedaulatan negara Indonesia semakin kompleks dam bukan hanya dari negara lain. Tapi juga perlunya mewaspadai adanya ancaman transnational company, yang justru bisa lebih kuat dibanding ancaman negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
bersenjata," jelas Connie.
Oleh sebab itu, menurut Connie, grand strategy pertahanan negara dan postur TNI itu harus disusun berdasarkan kondisi ideal yang ingin dicapai. "Selama ini sistem pertahanan negara dan postur TNI tidak pernah berkembang maju, padahal militer negara tetangga kita semakin maju. Makanya paradigma penyusunannya juga harus diubah," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, istri mantan Pangkostrad Letjen Purn Djadja Suparman ini mengatakan, tentang jumlah ideal kekuatan militer yang harus dimiliki Indonesia dalam postur pertahanannya. Dicontohkannya, untuk TNI AD harus memiliki setidaknya 824 batalyon tempur dan teritorial, 16 skuadron heli serbu dan angkut.
Sementara kekuatan TNI AL, dengan pembagian empat Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) harus memiliki 14 satuan KRI, 42 skuadron pesawat udara TNI AL, empat kapal induk, 14 kapal selam dan 14 brigade marinir. Sedangkan kekuatan TNI AU yang ideal harus terdiri atas 14 skuadron tempur, tujuh skuadron bomber, delapan wing Paskhas, 27 satuan pertahanan udara, 40 satuan radar dan satu satuan rudal.
Selain itu menambah kekuatan anggota TNI dari 360.389 personel menjadi 2,7 juta personel. "Kalau konsep grand strategy ideal itu tercapai, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dan dihormati, serta mempunyai posisi tawar yang tinggi dan bermartabat," tandas dosen FISIP UI ini .
Connie mengatakan, penambahan jumlah anggota TNI bersifat mutlak, walau telah memiliki persenjataan yang modern sekalipun. "Kita lihat saja perbandingan tentara AS dengan warga yang harus dijaganya, satu tentara itu menjaga 560 orang. Singapura itu 1 banding 59 orang. Sedang TNI kita, 1 banding 1000, satu personel menjaga seribu warga. Maka mau tak mau jumlah tentara harus ditambah," imbuhnya.
(zal/mly)











































