"Point 6 itu deadlock. Kita maunya pengiriman virus dari kita, harus dengan menandatangani material transfer agreement (MTA) yang selama ini mereka nggak bisa ambil seenaknya," kata Siti Fadillah dalam jumpa pers di kediamannya di Jalan Denpasar, Jakarta, Sabtu (24/11/2007).
Siti Fadilah yang baru kembali dari Jenewa, Swiss, ini menguraikan 5 point yang diajukan Indonesia dan disetujui. Pertama, WHO mengakui mekanisme yang selama ini berlaku adalah tidak transparan dan tidak adil. Kedua, WHO akan mengubah sistem sehingga menghormati negara-negara asal virus, yang berarti GISN (Global Influenza Surveillance Network) yang hanya menguntungkan negara adidaya seperti Amerika dibubarkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keempat, AS setuju membuat sistem IT teknologi yang bisa melacak keberadaan sampel flu burung.
"Tapi yang ini kita masih belum klop. Soalnya kita belum menemukan kata sepakat siapa yang bakal mengawasi," ujarnya.
Kelima, menkes sedunia sepakat untuk membentuk advisiring board untuk mengawasi pemanfaatan virus.
Pengiriman sampel flu burung, lanjut Siti Fadilah, akan ditentukan pada Juli 2008 pada sidang IGM-PIP selanjutnya. Walaupun salah satu point deadlock, Siti Fadilah tetap menganggap pertemuan itu dimenangkan oleh Indonesia.
"GISN yang sudah 50 tahun bisa kita ubah, mudah-mudahan Juli mendatang sudah ada mekanisme baru," imbuhnya.
Pertemuan menkes sedunia merupakan usulan Indonesia, sebagai bentuk protes penggunaan sampel flu burung seenaknya oleh Amerika. Alasannya, sampel yang dikirim Indonesia ke WHO bisa diambil oleh AS untuk dibuat vaksin lalu dipatenkan.
(mly/mly)











































