Selain itu, angka-angka yang disajikan BPS dinilai sering kali tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Anggota Panitia Anggaran DPR dari FPAN Nasril Bahar menyatakan, dia ragu dengan akurasi data BPS pada November soal angka kemiskinan yang turun hingga 2,13 juta orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasril menyampaikan keraguannya kepada wartawan usai menghadiri acara pertemuan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir dengan para guru bantu se-Sumatera Utara di Gelanggang Remaja, Jalan Sutomo, Medan, Sabtu (24/11/2007).
Data yang dilansir BPS tentang Indikator Perekonomian bulan November 2007 menyebutkan, penduduk miskin Indonesia pada Maret 2007 berjumlah 37,17 juta orang. Jika dibanding kondisi Maret 2006 yang berjumlah 39,30 juta orang, berarti ada penurunan 2,13 juta orang.
Data itu juga menyebutkan, jumlah penduduk miskin di pedesaan turun tajam dibanding perkotaan. Di pedesaan jumlahnya berkurang 1,20 juta orang, sementara di perkotaan turun 0,93 persen.
Data perbandingan angka kemiskinan, imbuh Nasril, susah didapat karena di Indonesia hanya BPS yang mengeluarkan data ini sehingga mau tidak mau semua pihak terpaksa mempercayai data itu.
"Sebenarnya untuk indikator-indikator ekonomi yang penting seperti ini dibutuhkan data pembanding. Ini agar dapat diketahui kondisi riilnya seperti apa," kata Nasril yang juga Wakil Sekjen PAN.
Jika tidak ada, imbuhnya, data yang disampaikan hanya untuk mendukung pemerintahan yang berkuasa saja, sehingga ada kesan pemimpin bersangkutan berhasil dan mendapat citra yang baik.
(rul/umi)











































