Memulai perjalanannya dari Karawang, Jawa Barat pada Minggu 18 November 2007, Mega berkali-kali menyampaikan pada massa yang dikunjunginya bahwa kedatangannya adalah untuk mendengarkan keluhan dan masukan dari rakyat.
Mega juga berkeinginan melihat langsung apa yang terjadi dan dirasakan masyarakat sejak dirinya tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Apakah semakin baik atau malah bertambah buruk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara seksama, Mega mendengarkan semua keluhan yang disampaikan. Ungkapan spontan yang sama sekali tidak direkayasa mengalir dari mulut warga yang dikunjunginya.
Banyak masalah yang dilontarkan, tapi secara umum dari kunjungannya yang berakhir di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Mega mendapatkan keluhan yang hampir sama.
Para petani di sepanjang jalur Pantai Utara, misalkan, mengeluhkan impor beras yang merusak harga gabah mereka ketika panen. Masalah irigasi, pupuk yang mahal serta bantuan bibit dari pemerintah yang tidak maksimal melengkapi
derita mereka.
Sedangkan para nelayan mengeluhkan tingginya harga solar pasca kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah. Hasil tangkapan yang minim tidak sebanding dengan ongkos bahan bakar yang harus dikeluarkan.
Demikian juga para pengrajin rotan di Cirebon. Bahan baku yang semakin sulit dan mahal, karena pemerintah tidak melarang ekspor rotan mentah. Hal ini membuat usaha
mereka yang sebagian besar merupakan UKM dengan skala rumahan tak mampu bersaing. Tak sedikit pengrajin yang kemudian merugi dan akhirnya gulung tikar.
Ada banyak harapan yang disampaikan kepada Mega untuk bisa mengubah keadaan. Bahkan dukungan agar putri Bung Karno itu kembali menjadi presiden pada 2009 secara spontan dan tulus disampaikan masyarakat.
Namun, Mega tidak mau terjebak. Dia buru-buru menegaskan, dirinya kini bukan lagi seorang Presiden yang bisa memutuskan. Bahkan dengan nada agak keras Mega sempat memarahi seorang ibu yang meminta uang ketika mengunjungi kelompok petani hutan jati di Blora.
"Saya bukan Sinterklas yang datang untuk membagi-bagikan duit," ucap Mega kala itu.
Mega menambahkan, saatnya rakyat Indonesia bangkit dengan menumbuhkan harga diri. Rakyat Indonesia tidak boleh menjadi pengemis dengan selalu bergantung pada orang lain.
Namun Mega berjanji apa yang dilihat dan didengarnya akan diperjuangkan melalui fraksi PDIP di DPR.
Tebar Pesona
Safari Mega bagaimana pun telah menimbulkan pandangan miring dari parpol lain. Tudingan tebar pesona hingga curi star kampanye dilontarkan.
Mega sendiri tidak merasa terlalu terganggu, bahkan dengan nada setengah bercanda Mega berujar, "Saya tidak perlu tebar pesona, saya sudah memesona kok."
Dibalik semua yang dikerjakan PDIP dan Mega dalam safari politik ini, ada persiapan besar dan matang yang sedang dilakukan untuk kembali merebut hati rakyat Indonesia.
Guru yang paling baik adalah pengalaman, demikian pepatah yang pas untuk menggambarkan apa yang sedang dilakukan PDIP.
Kekalahan telak pada pemilu legislatif dan pilpres 2004 telah menjadi pelajaran berharga bagi pengurus PDIP. Terlena dan mabuk kekuasaan membuat partai ini semakin jauh dari wong cilik yang diperjuangkannya.
Kembali menjadi partai yang memperjuangkan wong cilik menjadi kerja besar yang akan terus dijalankan PDIP hingga pemilu 2009.
Namun menjadi pertanyaan besar, apakah safari politik ini bisa berlanjut dengan kerja konkret FPDIP di DPR.
Memang sebagai oposisi, apa yang bisa dilakukan PDIP hanyalah mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat meski seringkali gagal terbentur mekanisme politik yang ada di DPR.
Tapi sebenarnya ada celah besar yang bisa digunakan PDIP untuk meraih simpati rakyat. Kerja konkret pro wong cilik itu bisa diwujudkan melalui kepala daerah yang diusung dan kemudian menang dalam pilkada.
Para kepala daerah itu bisa menjadi ujung tombak dari program besar kebijakan pro rakyat yang diinginkan DPP PDIP.
Jika berhasil, toh rakyat tidak akan terlalu bodoh untuk mendengarkan klaim dari pihak lain bahwa itu adalah program kerja pemerintah.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan PDIP menjadi semacam pendidikan politik bagi semua pihak terutama rakyat.
Namun dibalik itu semua, tentu bukan hanya sekadar pendidikan politik atau tebar pesona saja yang diharapkan rakyat Indonesia. Tetapi kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup yang menjadi cita-cita bersama.
Jadi, mari kita lihat saja bagaimana langkah konkret yang bakal ditempuh PDIP untuk mewujudkan itu. (bal/umi)











































