Dalam pilkada, menurut JK hasilnya sangat tidak simetris dengan hasil partai. Yang dipilih masyarakat bukan partai tapi figur. Selain kemampuan, yang menentukan kemenangan juga adalah pengaruh, tim pendukung, dan strategi kemenangan.
"Sulsel kalah karena 3 calon suara saling berebutan. Karena itu sangat penting tentukan strategi. Kultur juga sangat penting. Cara memilih pasangan juga sangat penting. Partai pendukung itu sangat berbeda dari figur. Kita menjual harapan. Yang incumbent menjual bukti. Dulu Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri) jual bukti." imbuh pria asal Makassar ini usai rapat paripurna Golkar di Hotel Borobudur, Jl Lapangan banteng, Jakarta, Jumat (23/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Thaib jual bukti, ternyata buktinya nggak cukup. Abdul Gafur juak harapan. Chemistri-nya tidak cocok. Saya senang semua sepakat itu ditiadakan. Karena konvensi sangat melelahkan. Selain itu budaya solidaritas kita berubah," beber JK.
Dia juga mempertanyakan kenapa pemilihan langsung sela ingin berpola cara Amerika, dan tidak ada yang berhasil.
"Pada 2004, yang mencalonkan pertama jadi capres bukan Golkar, maka dibikin Mr X for president. Kurangnya terlalu lama. Penyerangan terus bertubi-tubi, dikritik habis. Bukannya makin besar kebaikan yang muncul, maka kekurangan yang muncul. Selain itu capek. Lawan sudah tahu kekurangannya," tutur JK.
Menurutnya, konvensi selalu disamakan dengan kemodernan. "Saya heran kenapa begitu," pungkasnya.
(nvt/nvt)











































