Namun selalu ada jalan keluar tanpa harus mengeluarkan teknologi tinggi. Di desa Tebing Kaning, Bengkulu Utara, terdapat air mengalir deras berasal dari mata air Bukit Barisan. Debit air itu yang menjadi inspirasi warga untuk mengubah ke energi listrik.
Kebetulan juga, dilereng bukit Bumi Ratu Sambar tersebut, telah terbangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) peninggalan Belanda. Hanya saja mesin turbin telah PLTA lama mati. Tidak terawat dan tak terurus berpuluh-puluh tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan membeli mesin baru, PLTA kuno itu kembali dapat menerangi sebagian Bengkulu Utara. Total tenaga yang dihasilkan mencapai 50.000 watt.
"Pemerintah pusat memberi apresiasi tinggi atas pencapaian ini. Kami mendorong pada pemanfaatan energi alternatif," kata Menteri Percepatan Daerah Tertinggal (PDT) Lukman Eddy yang berkesempatan meresmikan PLTA di lereng Bukit Barisan yg mulai gundul.
Potensi energi alternatif itulah yang selayaknya terus digalakan. Tidak hanya dalam retorika tetapi implementasi.
(Ari/nvt)










































