"Anak-anak kan biasa main, mandi-mandi. Trus ada yang meninggal, kok kita yang disalahkan? Kan kubangan sudah ada dari dulu jauh sebelum proyek pembangunan lapangan terbang. Lagipula antara 2004-2005 juga pernah terjadi kejadian yang sama," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Iskadar Sitompul di Markas Korp Marinir, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (22/11/2007).
Seperti diberitakan sebelumnya, Indah tewas pada Selasa 20 November, setelah tercebur ke dalam salah satu kubangan yang berjarak sekitar 100 meter dari proyek pembangunan lanud, tidak jauh dari kawasan Alas Tlogo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lapangan terbang tersebut didisain berjarak dua kilometer dari pemukiman penduduk di mana warga akan direlokasi ke tempat yang lebih aman. "Kami sudah menyiapkan lahan untuk relokasi masing-masing 500 kilometer persegi per KK. Pelaksanaan relokasi menjadi tanggung jawab Pemkab Pasuruan," ujarnya.
Relokasi warga terkumpul di bagian barat aset tanah yang dibatasi dengan jalur listrik tegangan tinggi diberi jalan parit dan jalan patroli. "Relokasi juga memperhatikan sifat penduduk dan kondisi sosial. Artinya pemukin nelayan ditempatkan di wilayah pesisir supata tetap bisa melaut, dan pemukim petani ditempatkan di daerah pertanian," jelasnya.
Iskandar mengatakan pihaknya benar-benar serius untuk mengalokasikan tanah itu sebagai Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AL seluas 36 hektar. Lokasi tanah Puslatpur bersifat tandus dan hanya bisa ditanami tanaman palawija.
Sebelumnya, memang ada proposal pembangunan pelabuhan laut di wilayah itu. Namun nasibnya tidak diketahui kelanjutannya. Hanya saja, TNI AL tidak pernah ada rencana membangun pelabuhan laut.
(zal/ary)











































