Sejauh ini telah terjadi tiga kali penerbangan angkutan calhaj mengalami penundaan melebihi batas. Ketiga penundaan itu adalah penerbangan Garuda untuk kloter 5 dan kloter 6 dari embarkasi Jakarta - masing-masing tertunda 10 dan 13 jam - serta penerbangan Saudi Airlines untuk kloter 10 embarkasi Bekasi tertunda 9 jam.
"Pemerintah harus memberi peringatan keras kepada maskapai yang bersangkutan, kalau perlu meninjau ulang kontrak. Keterlambatan yang terjadi sudah di luar batas kewajaran itu perlu dicermati. Bahkan disebutkan ada pesawat yang sudah terbang dua jam, kembali lagi," ujar Dubes RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman, Salim Segaf al-Jufrie, di Madinah, Kamis (22/11).
"Garuda misalnya, mereka kan menggunakan pesawat sewaan dari negara lain untuk angkutan haji. Seharusnya kalau menyewa yang selektif, harus betul-betul yang layak terbang. Penumpang tidak boleh menunggu lama di airport. Bila itu terjadi maka maskapai harus bertanggung jawab," lanjut al-Jufri.
Keterlambatan kedatangan memang berpengaruh langsung pada pengaturan penginapan bagi jamaah. Untuk kloter 6 Jakarta misalnya, seharusnya tiba 20 November pukul 14.55 WAS, namun baru tiba sehari setelahnya pukul 04.50 WAS.
Padahal kedatangan jamaah ke Madinah adalah untuk menjalankan salat arbain (40 waktu). Waktu yang disediakan PPIH bagi jamaah sudah diperhitungkan dengan cermat, sehingga pergeseran waktu akan berpengaruh besar pada pengaturan perpindahan jamaah dan jamaah juga bisa komplain jika waktunya untuk arbain kurang.
Diupayakan Langsung MadinahSalim Segaf al-Jufrie juga mengatakan pada tahun-tahun ke depan sedang diupayakan semua penerbangan jamaah dari Indonesia ke Arab Saudi langsung turun ke Madinah, tidak perlu turun ke Jeddah dan selanjutnya dibawa ke Madinah dengan perjalanan darat.
Alasannya selain karena jamaah Indonesia telah cukup lelah dengan perjalanan jauh dari tanah air juga untuk menghemat biaya transportasi dan konsumsi. "Hal itu juga menjadi harapan dari berbagai negara. Tetapi tergantung juga pada kemampuan bandara Madinah menerima semua penerbangan," ujarnya. (mbr/asy)











































