"Kekerasan dalam lembaga pendidikan sudah memasuki artian yang sebenarnya, yaitu menghilangkan nyawa," kata Sekretaris Education Forum Mohammad Abduhzen dalam seminar pendidikan di di Hotel Gran Mahakam, Jakarta, Rabu 21 November 2007.
Dituturkan dia, tindak kekerasan berada dalam top of mind karena beberapa faktor. Pertama, pembelajaran sekolah yang tidak mengembangkan kemampuan memilih, sehingga murid dan mantan murid (lulusan) seringkali melakukan kesalahan dalam menentukan dan memilih sikap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusi yang ditawarkan untuk menanggulangi masalah kekerasan tersebut adalah dengan mengembangkan kemampuan berpikir sebagai paradigma yang mencerdaskan.
"Hal ini dapat terwujud jika murid dan mahasiswa dianggap sebagai manusia seutuhnya," ujar Abduhzen.
Sedangkan dosen sosiologi Universitas Jakarta Paulus Wirutomo menilai kekerasan sebagai wujud dari kewenangan. Situasi ini merupakan ancaman terbesar bagi kesatuan dan persatuan, serta penghalang terbesar pengembangan budaya demokrasi bangsa Indonesia.
"Negara yang tidak berani menegakkan rule of law akan ketakutan menghadapi premanisme dan ekstremisme, atau dengan kata lain kekerasan," kata Paulus yang juga dosen sosiologi FISIP UI ini.
(sss/ana)











































