Pertama, Muklas berwasiat agar anak istrinya bertakwa pada Allah dan Rasulnya. Kedua, anutlah Islam yang benar.
"Islam yang diwariskan dari generasi terbaik Islam," ujar Muklas membacakan dengan lantang di antara keluarga, wartawan dan Tim Pengacara Muslim (TPM) di LP Batu Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (22/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wasiat kelima, berkawanlah dengan mereka yang memiliki keyakinan yang benar dan jauhilah mereka yang memiliki keyakinan palsu. Keenam, menjauhlah dari dosa, seperti syirik, maksiat, munafik dan lain-lain sampai berjumlah 10 macam dosa.
Ketujuh, berhati-hatilah dalam berhubungan dengan orang lain. Jangan membesar-besarkan sesuatu dan jangan mengurangi sesuatu. Kedelapan, Muklas melarang anak-anaknya bekerja pada institusi negara, eksekutif, yudikatif, legislatif, serta alat-alat kekuasaan lainnya seperti polisi dan tentara, karena mereka menganut demokrasi sekuler.
"Ada ulama yang menyatakan adalah haram hukumnya bekerja di tempat itu, dan gaji yang dimakan pun haram hukumnya," kata Muklas.
Kesembilan, Muklas meminta anak dan istrinya Farida waspada terhadap buku-buku yang membahas terorisme. Muklas kemudian menunjukkan sebuah buku yang menurutnya tak berilmu dan miskin informasi.
Kesepuluh, Muklas meminta anak-anaknya tidak memutus tali silaturahmi dengan keluarga dari sisinya atau pun dari sisi istrinya. Kesebelas, Muklas meminta anak dan istrinya mendoakan Nasir Abbas dan Ali Imron.
"Paman kalian Nasir Abbas dan Ali Imron sedang menghadapi cobaan dalam agamanya. Maka doakanlah mereka," kata Muklas sambil sesekali memperingatkan anaknya yang paling kecil Usama yang terlihat tidak memperhatikan ucapannya.
"Keduabelas, ini yang terakhir, seandainya Presiden SBY nekad mengeksekusi saya, maka uruslah jenazah saya sesuai aturan sunnah. Aturan sunnah, tawanan perang sekalipun berhak untuk dimandikan jenazahnya," tandas Muklas.
(aba/sss)











































