The Classroom Batch 2: Tim KLH/BPLH Asah Skill Produksi Konten Video-Grafis

The Classroom Batch 2: Tim KLH/BPLH Asah Skill Produksi Konten Video-Grafis

Inkana Putri - detikNews
Senin, 06 Jul 2026 17:20 WIB
The Classroom Batch 2: Tim KLH/BPLH Asah Skill Produksi Konten Video-Grafis
Foto: Inkana Putri/detikcom
Jakarta -

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama detikcom kembali menggelar pengembangan kapasitas komunikasi melalui The Classroom Batch 2. Berlangsung pada 30 Juni - 2 Juli 2026 di Wisma PGN Diklat Megamendung Bogor, Jawa Barat, kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta dari tim KLH/BPLH di berbagai wilayah.

Melalui program ini, peserta dibekali berbagai keterampilan yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di era digital, mulai dari produksi konten visual, pengelolaan media sosial, hingga strategi distribusi konten di berbagai platform digital.

Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan menyampaikan pentingnya insan KLH/BPLH untuk terus belajar dan membuka wawasan terhadap perkembangan komunikasi di luar institusi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada istilah jangan menjadi katak dalam tempurung. Artinya, kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang ada di rumah kita sendiri. Kita perlu terus belajar dan mencari tahu sejauh mana perkembangan yang terjadi di luar KLH/BPLH," ujar Romi kepada detikcom.

Ia menilai detikcom sebagai representasi media digital memiliki posisi strategis untuk memberikan gambaran mengenai dinamika komunikasi di era digital, terutama terkait kecepatan dalam penyampaian berita, informasi, dan pengelolaan informasi publik.

"Menurut saya, teman-teman detikcom sebagai representasi media digital sangat cukup strategis untuk memberikan gambaran bahwa kecepatan dalam proses penyampaian berita, penyampaian informasi, penyampaian pengelolaan informasi publik bisa menjadi hal yang sangat strategis," imbuhnya.

Maksimalkan Audio Visual dalam Mengemas Video

The Classroom Batch 2: Tim KLH/BPLH Asah Skill Produksi Konten Video-GrafisFoto: Inkana Putri/detikcom

Sesi pertama The Classroom Batch 2 dibuka lewat CreativeHub+ bersama Head of Brandstudio detikcom, Okta Marfianto. Lewat materi bertema "Memaksimalkan Audio Visual pada Proses Pembuatan Video", ia membagikan tips bagaimana cara memproduksi konten visual yang menarik mulai dari proses pengemasan ide, pengambilan gambar, hingga mengedit video.

Okta menyampaikan saat ini informasi yang dikemas dalam format video cenderung lebih diminati audiens dibandingkan format lainnya. Menurutnya, video memiliki daya tarik yang lebih besar karena mampu menyajikan informasi lebih lengkap dan mudah dipahami.

"Mau ceritanya seru, kocak, sinematik, atau apapun itu, video bisa menjadi sarana informasi yang masih kita konsumsi, bahkan dibanding artikel. Karena video itu lebih menarik dan memikat, serta lebih memuaskan sebagian dari panca indera kita," kata Okta di acara The Classroom Batch 2, Rabu (1/6/2026).

"Kalau artikel mungkin kita cuma baca dan harus mengartikan sendiri. Tapi beda dengan video karena banyak unsur atau komponen di dalamnya. Kalau bahasa makanan, video itu punya perpaduan rasa, kalau menurut saya. Perpaduan audio dan visual," lanjutnya.

Dalam memproduksi sebuah video, Okta menekankan tiga hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, adalah proses praproduksi di mana kreator perlu menentukan konsep dan arah konten, mulai dari alur cerita hingga format video..

Kedua, tahap produksi. Pada tahap ini, kreator mulai melakukan proses pengambilan gambar dengan memperhatikan berbagai aspek visual seperti framing, komposisi gambar, pemilihan angle, hingga pergerakkan kamera agar video yang dihasilkan lebih menarik.

"Mau apapun liputannya, harus ada alurnya. Framing wide, medium dan close up adalah basic alur yang bisa membuat video kita bercerita. Kemudian kita bisa menggunakan angle berbeda atau unik untuk hook agar audiens bertahan lihat video kita di tiga detik awal," jelasnya.

Terakhir adalah proses post production atau pengeditan video. Di tahap ini, penting untuk memastikan alur video sesuai dengan cerita yang ingin disampaikan melalui penyusunan setiap konten secara terstruktur, mulai dari pembagian per segmen, penentuan highlight utama, penempatan judul, hingga penyusunan materi untuk voice over.

Selain itu, perpaduan antara sound effect (SFX) dan background music juga penting karena berperan besar dalam membangun suasana dan emosi dalam video. Okta juga mengimbau untuk memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) agar proses produksi agar lebih efisien.

"Kalau masih bingung atau belum punya gambaran, kita bisa memasukkan dua video referensi ke AI, lalu memberikan prompt seperti tolong transformasi video A dan video B," ujar Okta.

Di akhir sesi, para peserta yang dibagi menjadi lima tim ditantang membuat video singkat berdurasi satu menit dengan mengaplikasikan materi yang telah dipaparkan.

"Harapannya, semoga teman-teman dari KLH/BPLH bisa memaksimalkan proses produksi video bukan hanya dari proses produksi saja, tapi dari pra-produksi, produksi, dan post produksi yang diperlukan untuk engagement konten-konten mereka," paparnya.

Memperkuat Informasi Lewat Konten Grafis

The Classroom Batch 2: Tim KLH/BPLH Asah Skill Produksi Konten Video-GrafisFoto: Inkana Putri/detikcom

Sesi kedua menghadirkan BrandLab+ bersama Head of Brand Communication detikcom, Karel Anderson. Pada sesi ini, peserta diajak memahami perencanaan tujuan konten yang jelas dan pembuatan grafis menarik dalam strategi komunikasi digital.

"Saat ini komunikasi sudah berubah. Kalau dulu komunikasi adalah penyampaian informasi, namun sekarang komunikasi adalah perebutan perhatian (audiens)," katanya,

Namun, ia menilai komunikasi yang efektif harus mampu membawa audiens melalui tahapan awareness, engagement, dan trust, hingga akhirnya mendorong mereka untuk melakukan action

"Banyak akun atau brand berhenti di tahap engagement. Padahal tujuan akhir dari komunikasi adalah action, yaitu ketika audiens melakukan tindakan sesuai pesan yang ingin kita sampaikan," jelasnya.

Dalam materi berjudul "7 Dosa Branding di Sosial Media", ia membagikan kekeliruan yang sering dilakukan dalam membuat konten di media sosial. Karel pun menekankan pentingnya mengemas konten dengan pendekatan yang mampu membangun rasa dan emosi audiens, bukan sekadar menyampaikan informasi.

"Tugas humas dan social media bukan membuat publik melihat konten kita. Tugas kita adalah membuat mereka merasa bahwa isu yang kita bawa adalah isu mereka juga," jelasnya.

Di penghujung sesi, Karel mengajak para peserta untuk langsung mempraktekkan materi yang telah dipelajari dengan membuat sebuah konten grafis. Dalam tugas tersebut, peserta diminta menentukan tujuan komunikasi, menetapkan target audiens, menggali unique value atau fun fact yang dapat diangkat, memanfaatkan unsur emosi atau rasa dalam penyampaian pesan, hingga menyusun call to action (CTA) yang jelas dan relevan.

"Materi ini penting bagi humas karena banyak sekali pemerintahan atau instansi hanya men-deliver tentang agenda yang belum tentu dibutuhkan. Jadi, harapannya temen-temen humas, terutama peserta The Classroom bisa mengerti bagaimana memasukkan rasa ke konten yang diposting di sosial media. Jadi bukan asal sekadar posting, tapi bisa ter-deliver dengan baik ke audiens," pungkasnya.

Sebagai informasi, The Classroom kali ini diikuti oleh 34 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai unit eselon II di KLH/BPLH yang membidangi pengendalian lingkungan hidup, pengelolaan ekosistem, perubahan iklim, persampahan, serta fungsi pendukung lainnya.

Sebelumnya, KLH/BPLH juga telah menggelar The Classroom Batch 1 pada 17-19 Juni 2026, yang diikuti 32 peserta dari unit Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal) yang berasal dari wilayah Sumatera, dan Kalimantan.

(akd/ega)


Berita Terkait