"Konvensi tetap jadi isu paling hangat. Saya kira pendukung dan penentang konvensi fifty-fifty," kata anggota Komisi I DPR asal FPG Yuddy Chrisnandi kepada detikcom, Kamis (22/11/2007).
Menurut dia, ketidaksetujuan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla terhadap konvensi baru sebatas pendapat pribadi. Sehingga peluang terselenggaranya konvensi masih terbuka lebar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan dia, ketidaksetujuan JK terhadap konvensi karena banyak kelemahan. Selain memakan waktu yang begitu panjang, politik uang juga mewarnai konvensi 2004 yang meloloskan nama Wiranto-Salahudin Wahid. "Padahal waktu itu partai harus menyimpan tenaga untuk menghadapi pemilu legislatif. Tapi saya yakin kalau mayoritas peserta Rapimnas menghendaki konvensi, Pak JK juga setuju" kata Yuddy.
Yuddy berpendapat, konvensi tetap harus dilaksanakan, namun harus banyak perbaikan-perbaikan agar tidak terjadi politik uang lagi.
"Mudah sebenarnya untuk memperbaikinya. Tergantung political will saja. Misalkan dengan membuat survei awal, siapa yang masuk daftar calon. Kemudian diranking dan disertakan dalam konvensi, komposisi kader nasional dan daerah 40 banding 60, serta memberi sanksi yang tegas kalau ada politik uang," kata Menteri Pertahanan dalam kabinet bayangan ini.
Rapimnas Partai Golkar dibuka Kamis malam ini dan akan berlangsung Sabtu 24 November.
(anw/sss)











































