PT Pegadaian (Persero) bersama Universitas Andalas (Unand) menyerahkan hasil riset komprehensif Pemberdayaan Masyarakat dalam Kesiapsiagaan Mandiri Menghadapi Ancaman Gempa Megathrust Mentawai dan Tsunami di Kota Padang. Langkah proaktif dilakukan guna melindungi masyarakat pesisir
Langkah ini juga menjadi upaya Pegadaian dalam mendorong keberlanjutan Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada pilar sosial dan ketahanan komunitas. Melalui program Pegadaian Peduli, hal ini membuktikan Perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan inklusi finansial, namun juga memperhatikan aspek keselamatan dan investasi sosial jangka panjang masyarakat di wilayah operasional rawan bencana.
"Kolaborasi erat antara Pegadaian dan perguruan tinggi seperti Universitas Andalas ini menjadi bukti kuat bahwa riset tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen kajian akademik di perpustakaan, melainkan harus dikonversi menjadi solusi aplikatif yang menyelamatkan nyawa. Kami berharap model kesiapsiagaan mandiri ini mampu memperkuat kapasitas ketahanan (resilience) masyarakat Padang secara signifikan serta menjadi model percontohan nasional (benchmark) yang dapat direplikasi di wilayah pesisir rawan bencana lainnya di Indonesia," ujar Direktur Manajemen Risiko, Legal, dan Kepatuhan PT Pegadaian (Persero), Ismail Ilyas dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut disampaikannya saat menyerahkan hasil riset ke Wali Kota Padang, Fadly Amran di Kampus Universitas Andalas Padang pada Senin (29/6).
Adapun riset kolaboratif ini melahirkan sebuah cetak biru (blueprint) model mitigasi bencana berbasis masyarakat (community-based disaster risk management). Model ini mengintegrasikan lima instrumen utama, yaitu teknologi deteksi dini tsunami mandiri, sistem evakuasi berbasis komunitas, pemanfaatan masjid sebagai shelter dan pusat informasi kebencanaan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) evakuasi, hingga edukasi masyarakat yang disertai dengan simulasi kebencanaan mandiri yang dapat diterapkan.
Tingginya potensi ancaman gempa megathrust Mentawai dan risiko tsunami di sepanjang pesisir Kota Padang menuntut adanya solusi yang tidak hanya bergantung pada infrastruktur besar milik pemerintah, melainkan penguatan kapasitas internal warga sebagai garda terdepan penyelamatan.
Salah satu terobosan paling menonjol dari riset ini adalah penempatan masjid sebagai simbol kesiapsiagaan darurat. Di bawah model baru ini, masjid dioptimalkan fungsinya untuk bertindak sebagai shelter evakuasi sementara, pusat kendali informasi, serta ruang koordinasi utama warga saat terjadi masa krisis.
Pendekatan sosiologis ini dipilih secara cermat karena dinilai selaras dengan filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" di Sumatera Barat. Dalam hal ini, masjid memegang peran sentral dalam struktural dan kultural kehidupan masyarakat.
Tuai Apresiasi Rektor hingga Wali Kota
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Andalas, Prof. Dr. Kurnia Warman mengapresiasi atas visi kemanusiaan yang ditunjukkan oleh Pegadaian dalam mendukung riset aplikatif ini.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Pegadaian (Persero) yang telah memberikan kepercayaan, dukungan pendanaan, serta fasilitas penuh terhadap pelaksanaan riset ini. Kerja sama lintas sektor ini membuktikan bahwa kombinasi antara kepakaran akademis pertiwi dan kepedulian sosial dunia usaha mampu melahirkan inovasi yang berdampak langsung pada penguatan keselamatan publik. Kami berharap kemitraan strategis ini dapat terus berlanjut ke fase implementasi yang lebih luas," ungkap Prof. Kurnia.
Senada, Wali Kota Padang, Fadly Amran turut mengapresiasi kepada Pegadaian dan Universitas Andalas yang telah menginisiasi riset tersebut. Ia berpesan agar masyarakat dapat memanfaatkan hal tersebut dengan optimal.
"Kepada masyarakat, khususnya Pasie Nan Tigo. Saya berharap apa yang telah diserahkan oleh Pegadaian dan Unand ini dapat dijaga dan dimanfaatkan secara optimal. Kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab kita bersama. Semakin siap masyarakat, maka semakin besar peluang kita bertahan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa saat bencana terjadi," ujar Fadly.
Selain penelitian, diserahkan juga bantuan fisik berupa perangkat pendukung komponen sistem peringatan dini buatan lokal yang mudah dirawat oleh warga. Sinergi ini menegaskan hilirisasi riset universitas yang didukung oleh pendanaan dunia usaha mampu mempercepat penanganan isu-isu krusial di daerah.
Kedepannya, Pegadaian akan terus memperkuat sinergi yang melibatkan dunia usaha, akademisi, pemerintah daerah, media, dan komunitas masyarakat guna membangun budaya sadar bencana yang tangguh, tanggap, dan berkelanjutan. Pegadaian juga akan terus menegaskan posisinya sebagai korporasi yang adaptif dan berkomitmen memberikan nilai tambah bagi negeri.
Tonton juga video "Rencanakan Haji Sejak Dini, Untuk Wujudkan Mimpi Ke Tanah Suci"
(akd/ega)










































