Begitulah imbauan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA-Kidia) melalui roadshow kampanye melek media bertema "Televisi pelipur lara, penebar dusta" di SMPN 1, Jl Cikini Raya, Jakarta, Rabu (20/11/2007).
"Roadshow ini bertujuan agar remaja lebih kritis dan cermat memilih tontonan TV. Kita memberikan paradigma baru, media TV tidak semuanya benar," kata Humas YPMA Swasti Adicita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan yang juga menjadi humas Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK) ini juga menilai kebebasan pers justru membuat konteks di TV semakin tidak terkontrol.
"Sisi buruknya lebih mendominasi, sementara masyarakat Indonesia kurang melek media, sehingga apa yang ditampilkan di TV tidak bisa disaring dengan baik," ujar Swasti.
Sinetron
Mengenai sinetron yang merajai program acara TV, Ketua HMIK Rika berharap remaja memiliki filter agar dampaknya tidak terlalu berpengaruh.
"Remaja harus lebih selektif dan melakukan hal lain selain menonton TV. Banyak juga yang berpikir yang ada di sinetron itu sesuai dengan kehidupan, padahal tidak, walaupun tidak semuanya," ujar Rika.
(sss/umi)











































