Mereka jauh-jauh datang dari Bojong Gede, Bogor, ke Polres Sumedang untuk bertemu anaknya yang diduga menjadi korban aliran Al Haq. "Kami dengar di TV ada anak gadis bernama Winarti yang ditemukan di Rancaekek. Mungkin dia anak saya," ujar Saiyah di Mapolres Sumedang, Rabu (21/11/2007).
Setelah tanya ini itu ke petugas polisi, Saiyah dan Dahroni akhirnya diminta menemui Kasat Reskrim Polres Sumedang AKP Hotben Gultom. Perwira menengah Polri ini kemudian mengantar Saiyah dan Dahroni menemui lima korban aliran Al Haq, yang saat itu memang berada di Polres Sumedang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan dia sejak Agustus. Saya tidak tahu dia kemana, pokoknya menghilang begitu saja," ujar Dahroni diamini Saiyah.
Namun tubuh mereka seolah langsung lemas saat dipertemukan dengan lima korban Al Haq. Sebab Winarti yang mereka cari tidak ada di antaranya. Impian Saiyah dan Dahroni bertemu anak gadisnya kembali melayang.
"Yang ada gadis bernama Wintarti. Sebenarnya saya sudah tahu di TV, tapi saya tetap berharap berita di TV itu salah tulis. Tapi ternyata harapan saya salah," ungkap Saiyah dengan mata berkaca-kaca.
Saiyah kemudian memohon kepada Gultom untuk segera bisa menemukan anaknya. Menurut Saiyah, segela cara sudah dilakukannya namun hasilnya nihil.
"Winarti terakhir kerja di Hotel Bidakara Jakarta sebagai cleaning service. Dicek lewat ATM-nya diketahui transaksi terakhir tanggal 17 Oktober di daerah Benhil, Jakarta Pusat," ujar Saiyah sambil menangis.
Karena yang dicari tidak ada, Saiyah dan Dahroni pun segera meninggalkan Polres Sumedang. Mereka kembali melanjutkan pencarian anaknya yang kini entah berada di mana. (djo/asy)











































