Catat! Mitigasi Sebelum, Saat, dan Sesudah Kekeringan

Catat! Mitigasi Sebelum, Saat, dan Sesudah Kekeringan

Kanya Anindita Mutiarasari - detikNews
Senin, 29 Jun 2026 16:28 WIB
Ilustrasi kekeringan
Ilustrasi kekeringan (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta -

Kekeringan merupakan salah satu dampak dari musim kemarau di suatu wilayah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membagikan serangkaian upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana (mitigasi) kekeringan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip dari situs resmi BNPB, berikut sederet poin tentang mitigasi kekeringan, mulai dari sebelum, saat hingga sesudah kejadian.

- Sebelum kekeringan (mencegah dampak):

  • Tanam pohon dan sayuran
  • Tampung air dari hujan
  • Membuat sumur resapan
  • Menjaga daerah tangkapan air, misalnya danau, sungai, mata air, dan kolam
  • Perbaiki pipa air yang bocor
  • Latihan evakuasi kebakaran secara rutin

- Saat kekeringan:

  • Simpan air di tempat yang tertutup, aman, dan bersih
  • Hemat penggunaan air
  • Bijak penggunaan air saat menyiram tanaman
  • Gunakan sirkulasi udara yang lancar agar tetap dingin
  • Hindari membakar sampah
  • Siapkan perlengkapan siaga bencana

- Setelah kekeringan:

  • Tutup sumur dan wadah air agar air tidak menguap
  • Makan makanan bergizi, buah-buahan, dan vitamin
  • Pantau selalu informasi
  • Gunakan masker saat keluar
  • Atur penggunaan air untuk memasak, minum, dan membersihkan diri
  • Bersihkan sayuran dan buah menggunakan wadah air daripada air mengalir

Persiapan BNPB Hadapi El Nino

Fenomena El Nino yang diprediksi mulai berkembang pada pertengahan 2026 dan mencapai puncaknya pada akhir tahun hingga awal 2027 berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi kering, khususnya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan ketersediaan air baku, terganggunya produksi pertanian, serta meningkatnya ancaman terhadap ketahanan pangan nasional.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BNPB telah melakukan berbagai langkah mitigasi dan kesiapsiagaan, antara lain melalui optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor di wilayah rawan kekeringan, pengembangan jaringan pipanisasi air bersih sebagai solusi penyediaan air jangka panjang, penguatan kapasitas daerah melalui dukungan sarana dan prasarana kebencanaan, serta memastikan kesiapan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak.

Selain upaya mitigasi kekeringan, BNPB juga terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan melalui dukungan operasi udara, Operasi Modifikasi Cuaca, pendampingan pemerintah daerah, serta penguatan koordinasi di enam provinsi prioritas rawan karhutla. BNPB menekankan bahwa mitigasi, kesiapsiagaan, dan penanganan karhutla harus terus ditingkatkan agar kejadian kabut asap lintas batas seperti yang terjadi pada tahun 2015 tidak terulang kembali.

Simak juga Video Megawati Tekankan Politik Tata Ruang dalam Mitigasi Bencana

(kny/imk)


Berita Terkait