Hal tersebut disampaikan Dubes RI untuk Arab Saudi, Salim Segaf al-Jufri, kepada wartawan di Madinah, Selasa (20/11/2007) siang. Dia memaparkan, Pemerintah RI sudah membuat kontrak dengan Pemerintah Arab Saudi mengenai konsumsi di Arafah dan Mina dengan model prasmanan.
"Kita masih terus mempelajari mana yang terbaik. Karena nantinya semua risiko dari teknis penyajian menjadi tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab Pemerintah Arab Saudi. Banyak yang dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan situasi di lokasi," ujar dia.
Sebelumnya al-Jufri telah menyampaikan berbagai kelemahan berbagai risiko model prasmanan di Arafah dan Mina, antara lain kondisi alam tidak stabil, mengganggu kekhusyukan beribadah, jamaah tidak terbiasa antre untuk makan serta sempitnya lokasi di Mina untuk penyajian makanan.
Dia lebih cenderung menyajian makanan diberikan dengan kotak yang dibagi-bagikan kepada jamaah karena merasa nyaman dan terjamin ketersedian makanan.
"Saat ini kita masih belum pada keputusan final, masih terus mempelajari berbagai motode yang pas. Tapi yang pasti masih terbuka kemungkinan bagi kita untuk memperbarui kontrak dengan Pemerintah Arab. Masih banyak waktu tersedia untuk melakukan itu," ujar dia.
(mbr/asy)











































